ANOATIMES.COM, MUNA – Potensi wisata alam di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara kembali mencuri perhatian publik. Air Terjun Kalima Lima, yang terletak di Desa Moolo, Kecamatan Batukara, mulai ramai dikunjungi setelah aksesnya diperbaiki dan sejumlah fasilitas dasar disiapkan oleh pemerintah desa bersama masyarakat.
Petualang asal Sultra, Al Fatih, menjadi salah satu pengunjung yang baru-baru ini menghabiskan waktu dengan berkemah di kawasan tersebut. Ia bersama beberapa rekannya menempuh perjalanan darat dan laut untuk bisa sampai di lokasi yang disebutnya sebagai “permata tersembunyi” di balik hutan Muna.
“Dari Raha kami naik kapal motor dulu sekitar satu jam, lalu jalan kaki kurang lebih tiga kilometer. Medannya cukup menantang, tapi masih aman untuk dilalui,” kata Al Fatih saat ditemui usai turun dari lokasi air terjun.
Sesampainya di Kalima Lima, Al Fatih mendirikan tenda di area datar yang tak jauh dari titik jatuh air. Malam pun dihabiskan dengan api unggun kecil, disertai suara gemuruh air yang mengalir dari lima jalur bebatuan tinggi.
“Suhu malam itu sangat dingin, mungkin sekitar 15 derajat. Tapi justru itu yang membuat kami merasa dekat dengan alam. Kabut turun perlahan dan suara air jadi seperti musik alami,” ujarnya.
Air Terjun Kalima Lima diberi nama demikian karena bentuk alirannya menyerupai lima jari tangan manusia. Air terjun ini jatuh dari bebatuan yang lebar dan tinggi, menciptakan pemandangan yang unik dan khas.
Keesokan harinya, Al Fatih dan timnya menikmati pemandangan matahari pagi dari balik pepohonan, sebelum akhirnya menceburkan diri ke kolam alami di bawah air terjun.
“Airnya benar-benar dingin seperti es, tapi sangat menyegarkan. Kalau orang kota mandi di sini, bisa langsung lupa stres,” ucapnya sambil tertawa.
Menurut Al Fatih, dibanding kunjungannya beberapa tahun lalu, kondisi Kalima Lima saat ini jauh lebih terawat dan mudah diakses. Ia menilai potensi wisata di sana sangat besar, apalagi jika dikembangkan secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem sekitar.
“Saya membayangkan nanti bisa ada paket wisata camping, jelajah alam, lalu pulangnya bawa oleh-oleh khas Muna. Tapi syaratnya, jangan hilangkan keaslian tempat ini,” katanya.
Warga Desa Moolo, Aidil Barak, menyebut bahwa kunjungan ke Kalima Lima meningkat sejak jalan setapak dibenahi dan lokasi air terjun dibersihkan secara berkala. Ia yang juga sering menjadi pemandu wisata mengatakan bahwa banyak anak muda dari Raha dan sekitarnya datang untuk sekadar berfoto atau berkemah.
“Biasanya ramai saat akhir pekan. Kami warga di sini juga mulai siapkan homestay, warung, dan tempat parkir untuk pengunjung. Ada juga toilet umum dan musala,” kata Aidil.
Aidil berharap, dengan semakin banyaknya wisatawan yang datang, ekonomi warga sekitar bisa ikut terdongkrak. Ia juga mendukung jika pemerintah daerah mau mengembangkan kawasan itu menjadi desa wisata yang lebih profesional.
“Yang penting semua tetap jaga kebersihan. Kami sudah siapkan tempat sampah dan posko kecil untuk edukasi wisatawan agar tidak buang sampah sembarangan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Herman, warga lainnya yang tinggal tak jauh dari jalur masuk air terjun. Ia mengaku senang karena kawasan yang dulu sepi dan hanya dikenal warga lokal, kini mulai dilirik banyak orang.
“Dulu hanya anak-anak kampung sini yang tahu tempat ini. Sekarang sudah banyak yang datang, bahkan ada dari luar daerah. Kami tentu senang, tapi juga ingin semua tetap menjaga alam,” ujar Herman.
Herman juga berharap pemerintah kabupaten atau provinsi bisa membantu menyediakan fasilitas tambahan seperti penerangan, jaringan seluler, hingga penambahan papan informasi arah agar memudahkan wisatawan.
“Kalau bisa juga dibuat jembatan kecil di beberapa titik jalan setapak yang curam. Itu akan sangat membantu pengunjung, apalagi yang tidak terbiasa naik gunung atau jalan berbatu,” imbuhnya.
Air Terjun Kalima Lima saat ini masih dikelola secara swadaya oleh masyarakat. Meski begitu, semangat gotong-royong dan kesadaran menjaga potensi alam membuat kawasan ini perlahan-lahan menjadi destinasi alternatif di Pulau Muna.
Dengan dukungan semua pihak, termasuk pemerintah, warga, dan komunitas pegiat alam, Kalima Lima diyakini mampu menjadi ikon wisata baru yang tidak hanya menyajikan pemandangan eksotis, tetapi juga menghadirkan pengalaman petualangan yang otentik di tengah hutan Sulawesi Tenggara. (ADV).







