ANOATIMES.COM, KENDARI – Langit masih diselimuti kabut tipis ketika Aldy Agusta menjejakkan kaki di Pelabuhan Toli-Toli, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Ransel hitam yang melekat di punggungnya telah menempuh perjalanan darat dari Kota Kendari selama hampir empat jam. Namun perjalanan belum usai. Di depannya, hamparan laut biru kehijauan menanti, menyembunyikan gugusan pulau karang yang disebut banyak orang sebagai “Raja Ampat Mini” — Labengki. Bagi Aldy, ini bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan bentuk ziarah ke salah satu sisa-sisa keheningan alam yang masih bertahan di Indonesia.
Untuk menuju Labengki, wisatawan seperti Aldy umumnya harus menempuh dua jenis perjalanan: darat dan laut. Dari Kendari, jalur darat bisa ditempuh melalui berbagai rute, termasuk menuju Desa Toli-Toli, Lasolo, atau Sawa, yang masing-masing memakan waktu 2 hingga 4 jam tergantung kondisi jalan. Dari titik-titik tersebut, penyebrangan dilanjutkan dengan kapal kayu atau speedboat menuju Labengki. Biaya kapal kayu berkisar Rp 4–6 juta per perjalanan pulang-pergi, dan bisa dibagi bersama rombongan, sehingga per orang hanya membayar sekitar Rp 300.000 hingga Rp 600.000. Alternatif lainnya adalah mengikuti paket open trip, yang umumnya ditawarkan mulai dari Rp 1,2 juta hingga Rp 1,5 juta per orang untuk perjalanan 3 hari 2 malam. Paket ini sudah termasuk kapal, penginapan, makan, serta pemandu lokal.

Petualangan Aldy dimulai sesampainya di Labengki Besar. Aroma laut yang asin dan segar menyambutnya ketika kapal kayu bersandar di dermaga kayu yang sederhana. Tidak ada riuh kendaraan bermotor, hanya suara debur ombak yang halus dan kicau burung laut yang melintas. Bagi Aldy, keheningan ini adalah kekayaan yang sulit dicari di kota-kota besar.
Hari pertama dihabiskannya dengan menyusuri Teluk Cinta — spot snorkeling yang sudah terkenal di kalangan wisatawan pecinta alam. Dengan peralatan sederhana, ia turun ke perairan yang jernih dan disambut oleh dunia bawah laut yang nyaris tidak terusik. Terumbu karang berwarna pastel menari di arus tenang, sementara ikan-ikan kecil melintas di antara sela-sela karang seperti bintang-bintang di angkasa. Kamera aksi yang selalu ia bawa merekam setiap detik dalam diam. “Seperti melihat dunia lain, tapi kita sadar itu nyata,” ungkapnya dalam jurnal perjalanan yang ia tulis malam itu.
Hari kedua membawanya ke Labengki Kecil, tempat bermukimnya komunitas suku Bajo yang telah lama menetap di pulau-pulau sekitar. Aldy berjalan melewati rumah-rumah panggung yang berdiri kokoh di atas laut dangkal, dihiasi jaring ikan dan jemuran baju yang tertiup angin. Ia bertemu dengan La Ode Karima, seorang nelayan yang juga merangkap pemandu wisata bagi pengunjung yang datang.
La Ode bercerita tentang bagaimana dulu Labengki hanya diketahui oleh sedikit orang. Mereka hidup dari laut secara turun-temurun, dengan aturan adat yang mengatur kapan boleh melaut dan kapan harus memberi waktu laut untuk beristirahat. “Kami diajar dari kecil, kalau ambil dari laut harus tahu batas. Laut ini bukan milik kita saja, tapi untuk cucu-cucu nanti,” kata La Ode sambil mengelus dayung perahunya yang mulai lapuk.
Aldy juga sempat berbincang dengan anak-anak muda setempat, beberapa di antaranya kini bekerja sebagai kru kapal wisata, juru masak, dan pengelola homestay. Salah satu dari mereka, Rini (22), mengaku senang dengan kedatangan wisatawan, karena membuka peluang baru di kampungnya. “Dulu saya pikir saya harus ke kota kalau mau kerja. Sekarang saya bisa bantu orang tua, tapi tetap tinggal di sini,” katanya. Namun ia juga menyuarakan harapan agar para pengunjung datang dengan rasa tanggung jawab. “Kalau bisa, jangan cuma datang untuk selfie. Tolong jaga laut kami, jangan tinggalkan sampah.”
Setelah menyerap banyak cerita dan kehidupan di desa Bajo, Aldy melanjutkan petualangannya ke Gua Allo dan Kolam Renang Alam — dua lokasi tersembunyi yang masih jarang dikunjungi. Untuk mencapai gua, ia harus menyusuri tebing karang, melewati celah sempit dan menuruni bebatuan curam. Namun begitu tiba di dalam gua, ia disuguhi pemandangan yang tak terlupakan: sebuah kolam air tawar berwarna hijau toska, tersembunyi di perut batu kapur, dengan cahaya matahari yang menyelinap dari celah di atas.
Di hari ketiga, Aldy memutuskan untuk tinggal di sekitar kampung saja. Ia merasa sudah cukup berkeliling dan ingin lebih menyatu dengan warga lokal. Di pagi hari, ia mengajak beberapa anak untuk ikut membersihkan pantai dari sampah plastik. Mereka memungut botol, plastik bungkus makanan, dan sisa jaring bekas yang terdampar di pantai. Tidak ada peralatan mewah, hanya kantong kresek dan semangat yang besar. Aldy merasa kegiatan kecil seperti ini justru jauh lebih berarti daripada sekadar menikmati pemandangan tanpa kontribusi.

Menjelang siang, ia menanam satu bibit mangrove di pesisir bersama anak-anak tersebut. Di bawah sinar matahari yang terik, Aldy menanam pohon itu sebagai simbol dari harapan: agar Labengki tetap lestari, agar anak-anak ini tumbuh dengan alam yang sehat, dan agar wisata tidak menjadi bencana bagi tempat seindah ini. “Saya datang ke sini membawa kamera. Tapi saya pulang membawa pelajaran,” ujarnya pelan.
Menjelang sore, kapal kayu yang akan membawanya kembali ke daratan telah bersandar. Angin laut berembus lebih kencang, seolah ikut berpamitan. Aldy menatap kembali ke pulau yang selama tiga hari telah memberinya lebih dari sekadar gambar dan video. Ia membawa pulang kisah, suara, dan harapan dari orang-orang yang tinggal di sana. Baginya, Labengki bukan hanya destinasi wisata, tetapi cermin: tempat untuk melihat kembali hubungan manusia dan alam dalam bentuknya yang paling jujur.
Dalam era ketika tempat indah cepat menjadi rusak oleh euforia wisata tanpa kendali, Labengki masih punya peluang untuk bertahan — selama pengunjung datang bukan hanya dengan mata, tapi juga dengan hati. Dan selama masih ada orang-orang seperti Aldy Agusta yang mau bercerita dengan jujur, tempat-tempat seperti Labengki masih punya suara untuk terdengar di tengah kebisingan dunia. (ADV)







