ANOATIMES.COM, KONUT- Di balik bentangan hutan tropis dan gugusan bukit batu kapur di Kabupaten Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra), terdapat sebuah permata alam yang belum banyak tersentuh: Permandian Air Panas Wawolesea.
Tempat ini bukan hanya destinasi rekreasi, tetapi juga lokasi petualangan yang memberi pengalaman menyatu dengan kekuatan bumi dan ketenangan alami yang langka.
Empat sahabat pencinta alam, yakni Heni, Arman, Dita, dan Fajar, memutuskan menjadikan Wawolesea sebagai tujuan akhir pekan mereka. Berangkat dari Kota Kendari sejak pagi buta, perjalanan mereka menempuh jarak lebih dari 80 kilometer ke arah utara.
Jalur yang dilalui tidak selalu mulus, dengan kondisi jalanan berkelok dan sejumlah tanjakan yang memacu adrenalin. Namun, menurut Heni, justru itulah bagian terbaik dari setiap perjalanan.
“Kami memang mencari pengalaman, bukan hanya tempat yang bagus untuk foto,” ujarnya saat berbincang santai di tepi kolam alami.
Setibanya di kawasan permandian sekitar pukul delapan pagi, suasana langsung berubah menjadi lebih damai.
Kabut tipis yang menyelimuti area kolam berpadu dengan aroma belerang yang khas dari air panas membuat udara terasa hangat dan menenangkan.
Kawasan ini dipenuhi kolam-kolam alami yang bertingkat seperti terasering, dikelilingi dinding kapur berwarna putih kecokelatan yang terbentuk secara alami akibat endapan mineral.
Air di kolam tersebut bukan hanya panas, tetapi juga asin. Suhunya berkisar antara 35 hingga 54 derajat Celsius, tergantung kolam yang dipilih.
Uniknya, gelembung-gelembung kecil terus muncul dari dasar batu karst, menciptakan sensasi seperti berendam di jacuzzi alami. Dita menyebut airnya sangat nyaman dan membuat kulit terasa lebih halus.
“Kayak spa alami, tapi jauh lebih seru karena pemandangannya langsung ke alam,” tuturnya sambil tertawa kecil.
Di salah satu kolam, mereka bertemu dengan Ibrahim, seorang pria paruh baya asal Lasolo, yang sudah lebih dari satu dekade rutin datang ke Wawolesea.
Menurut Ibrahim, permandian ini tidak hanya menyegarkan, tetapi juga dipercaya berkhasiat bagi kesehatan, terutama untuk mengurangi pegal-pegal dan masalah kulit ringan.
“Air ini memang anugerah. Banyak orang sini dan dari luar daerah datang kalau merasa badan tidak enak,” katanya.
Keunikan Wawolesea terletak pada lokasinya yang berada sangat dekat dengan laut. Kolam-kolam air panas itu hanya berjarak beberapa puluh meter dari bibir pantai.
Di beberapa titik, aliran air panas mengarah langsung ke laut, menciptakan percampuran alami antara air hangat dan air asin yang menyejukkan.
Dari atas bukit karst di sekitar permandian, panorama laut terlihat membentang luas, menawarkan pemandangan menakjubkan yang jarang ditemui di tempat wisata sejenis.
Setelah puas berendam, Heni dan kawan-kawan melanjutkan penjelajahan ke arah bukit. Mereka sempat menyaksikan beberapa satwa liar seperti burung rangkong dan kera ekor panjang.
Di sepanjang jalur, air mengalir kecil membentuk sungai alami yang juga dimanfaatkan warga sekitar untuk kebutuhan sehari-hari.
Di titik peristirahatan, mereka membeli minuman hangat dari dua warga lokal, Lema dan Nuria, yang membuka warung sederhana tidak jauh dari lokasi kolam.
Menurut Nuria, sejak beberapa tahun terakhir, kunjungan ke Wawolesea meningkat cukup pesat. Wisatawan dari luar daerah bahkan mancanegara mulai berdatangan, terutama pada akhir pekan dan musim libur.
“Sekarang makin ramai. Kadang sampai malam masih ada yang mandi. Tapi tetap harus hati-hati, karena beberapa kolam panas sekali,” ucapnya sambil menuangkan kopi ke cangkir.
Menjelang senja, suasana berubah menjadi semakin magis. Langit mulai berwarna jingga, dan uap tipis dari permukaan air menciptakan pemandangan yang menenangkan.
Heni dan ketiga temannya memilih duduk diam di tepi kolam, membiarkan hangatnya air dan semilir angin laut membawa ketenangan setelah hari yang penuh eksplorasi.
Bagi mereka, Wawolesea bukan hanya destinasi wisata, tetapi tempat untuk melepas penat, menyatu dengan alam, dan merenungi betapa kayanya bumi Sulawesi.
Petualangan yang dimulai dengan jalanan berliku itu ditutup dengan keheningan yang membekas. Mereka pulang bukan hanya dengan tubuh yang lebih segar, tetapi juga hati yang lebih lapang.
Permandian Air Panas Wawolesea terletak di Desa Wawolesea, Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara. Untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung dikenakan tarif Rp5.000 untuk kendaraan roda dua, Rp10.000 untuk roda empat, dan Rp100.000 bagi wisatawan asing. Kawasan ini cocok dikunjungi pagi hingga sore hari. Disarankan membawa pakaian ganti dan menjaga kebersihan lingkungan selama berkunjung. (adv)







