Liangkabori, Destinasi Sehari Penuh Aksi dan Sejarah di Tanah Muna

  • Whatsapp
Liangkabori, Destinasi Sehari Penuh Aksi dan Sejarah di Tanah Muna
Penampakan salah satu Goa yang menyimpan ratusan lukisan purba di Liangkabori. (Dok Anoatimes.com)

ANOATIMES.COM, MUNA- Kabut tipis masih menggantung di antara tebing karst ketika langkah para petualang muda dari Kendari menapaki tanah basah di kawasan Liangkabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna.

[25/6 12.49] Awi Anoa Times: Ketgam : Para petualang asal Kendari saat mencapai puncak disalah satu Kars yang ada di Liangkabori. Foto : Dok. Anoatomes.com

Bacaan Lainnya

Suara dedaunan bergesekan tertiup angin, diselingi kicauan burung dan desir jangkrik dari balik celah bebatuan. Cahaya pagi memantul di dinding kapur menjulang, memperlihatkan lanskap purba yang belum tersentuh modernitas.

Liangkabori menyambut setiap tamu dengan keheningan yang sarat makna. Formasi karst yang menjulang tinggi seolah menjadi gerbang alam menuju masa lalu.

Di sela-sela dinding batu, ladang jagung tumbuh liar dan mengisi ruang sempit antartebing, menciptakan kontras indah antara kehidupan dan kesunyian bebatuan purba.

Sekelompok pemuda asal Kendari – Jay, Syukur, Arka, Ika, dan Rija – datang untuk menjelajahi kawasan yang dikenal tidak hanya karena nilai arkeologisnya, tetapi juga sebagai arena eksplorasi alam terbuka.

Setibanya di lokasi, mereka langsung menantang tebing kapur yang tinggi dan kasar. Aktivitas panjat tebing menjadi awal dari perjalanan mereka. Jay, yang sudah terbiasa memanjat, menyatakan:

Liangkabori, Destinasi Sehari Penuh Aksi dan Sejarah di Tanah Muna
Para petualang asal Kendari saat mencapai puncak disalah satu Kars yang ada di Liangkabori. (Dok Anoatomes.com)

“Genggaman di tebing terasa kasar tapi justru itu memberi pegangan kuat. Sensasi ketika mencapai puncak—melihat bentangan karst sejauh mata memandang—banget,” ujarnya.

Syukur, yang baru pertama kali mencoba panjat tebing alami, menambahkan:

“Jantung saya terangkat, tapi begitu berhasil mencapai jalur atas, rasanya luar biasa. Alam di sini benar-benar menggetarkan.” jelasnya.

Setelah menyelesaikan panjat tebing, mereka berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang memisahkan ladang jagung.

Tanaman jagung putih dan kuning tumbuh di sela karst, memberikan nuansa unik yang jarang ditemukan di wilayah lain. Di sela istirahat, mereka memetik jagung muda yang nantinya dijadikan bekal makan siang.

Saat matahari mulai meninggi, kelompok ini memasuki kawasan utama Liangkabori.

Terowongan sepanjang 80 meter mengantar mereka ke dalam gua yang gelap dan lembap. Di dinding gua, terdapat ratusan lukisan purba yang diperkirakan berusia ribuan tahun.

Liangkabori, Destinasi Sehari Penuh Aksi dan Sejarah di Tanah Muna
Para pengunjung yang hendak melakukan aktifitas panjat tebing di Liangkabori.

Samada, juru kunci gua Liangkabori yang telah menjaga lokasi ini sejak 1994, menjelaskan:

“Di dalam gua ini terdapat lukisan manusia, perahu, matahari, kuda, rusa, babi hutan, anjing, kalajengking, ular, lipan, dan layang-layang,” terangnya.

Lukisan tersebut tersebar di berbagai sisi gua, dari bagian overhang hingga pilar-pilar batu. Jumlahnya mencapai 222 gambar dengan warna dominan merah.

Salah satu lukisan yang paling menarik adalah gambar layang-layang, atau dalam bahasa lokal disebut kaghati kolope, yang terbuat dari daun kering. Budaya ini dipercaya sebagai teknologi layang-layang tertua di dunia.

Ika, salah satu anggota rombongan, mengaku terkesan dengan jejak budaya tersebut.

“Melihat lukisan layang-layang dari daun kering di gua ini, saya merasa seperti melihat halaman masa lalu budaya Muna,” katanya.

Setelah menjelajahi gua, mereka menikmati makan siang dengan menu khas Muna: kambuse (jagung tumbuk kukus), kabuto (singkong kukus fermentasi), dan ayam kaparende, ayam kampung berkuah rempah dengan daun kedondong.

Rija menyebutkan bahwa cita rasa lokal tersebut memberi kesan tersendiri setelah seharian beraktivitas:

“Kekayaan rasa makanan asli Muna ini memberi kehangatan setelah hari penuh aktivitas,” ungkapnya.

Menurut data dari Balai Arkeologi dan BRIN, wilayah Liangkabori dan sekitarnya menyimpan setidaknya 48 titik lokasi dengan lukisan prasejarah.

Kawasan ini diproyeksikan sebagai bagian dari Geopark Nasional Muna, yang tengah dipromosikan sebagai destinasi wisata ilmiah dan edukatif.

Jalan menuju Liangkabori dari Kota Raha berjarak sekitar 17 kilometer, dengan kondisi jalan yang sebagian besar sudah beraspal.

Lokasi ini juga telah dikunjungi oleh peneliti mancanegara, arkeolog, hingga wisatawan yang ingin menelusuri jejak budaya prasejarah.

Di malam hari, sambil beristirahat di homestay warga, Arka menyampaikan kesannya tentang kunjungan mereka.

“Hari ini kami tak hanya panjat tebing dan melihat gua. Ada dialog, ilmu, dan rasa yang membekas. Rasanya, sehari di Liangkabori seperti menyelami masa lalu dan masa kini sekaligus,” jelasnya.

Liangkabori, Destinasi Sehari Penuh Aksi dan Sejarah di Tanah Muna
Pemandangan alam indah yang ada di puncak Liangkabori.

Petualangan di Liangkabori tak sekadar tentang alam yang indah atau gua purba yang sunyi. Ini adalah perjalanan untuk mengenali kembali akar kebudayaan, menyentuh jejak leluhur, dan merasakan harmoni antara manusia dan alam.

Dalam sehari, Liangkabori menyuguhkan pengalaman yang menyatu antara fisik, rasa, dan ingatan kolektif. (adv)

Pos terkait