ANOATIMES.COM, KONAWE – Pantai Toronipa di Kabupaten Konawe kembali ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun luar kota. Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah aktivitas berkemah sambil menyaksikan matahari terbenam dan menyuluh ikan di malam hari saat air laut surut. Kegiatan ini menjadi daya tarik baru dalam wisata petualangan berbasis alam di kawasan pesisir timur Sulawesi Tenggara tersebut.
Pada Sabtu malam (12/7), puluhan wisatawan terlihat mendirikan tenda di sisi timur pantai. Banyak dari mereka sengaja datang untuk merasakan suasana malam dengan menyuluh ikan di perairan dangkal, memanfaatkan surutnya air laut yang terjadi sejak pukul 20.00 Wita. Beberapa wisatawan membawa senter kepala, jaring, dan wadah penampung ikan. Ikan-ikan kecil seperti belanak dan udang terlihat ditangkap secara tradisional menggunakan metode pencahayaan.
“Baru pertama kali menyuluh ikan, ternyata seru juga. Ini beda dari aktivitas pantai biasa,” ujar Nabila (27), wisatawan asal Kendari yang datang bersama lima rekannya untuk berkemah semalam.
Kegiatan menyuluh dilakukan secara kelompok dengan pengawasan warga lokal, yang juga ikut serta untuk menjaga keselamatan dan memberi arahan teknik dasar. Selain menjadi hiburan, hasil tangkapan malam itu langsung dibakar bersama di area berkemah.
Sejak pertengahan 2024, sejumlah komunitas pecinta alam dan pelancong domestik mulai menjadikan Toronipa sebagai destinasi alternatif untuk kemah akhir pekan. Letaknya yang hanya sekitar 23 kilometer dari pusat Kota Kendari menjadikan pantai ini mudah diakses dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Waktu tempuh normal sekitar 45 menit via jalur darat melalui Kecamatan Soropia.
Kondisi infrastruktur di kawasan pantai disebut membaik. Jalan utama telah diaspal halus, dan lahan parkir diperluas. Namun, fasilitas seperti kamar mandi umum dan pengelolaan sampah masih terbatas. Beberapa pengunjung menyampaikan perlunya penataan area kemah agar tidak merusak vegetasi pantai.
Pantai Toronipa dikenal dengan garis pantainya yang panjang, perairan tenang, serta pasir putih lembut. Namun, yang menjadi sorotan dalam beberapa bulan terakhir adalah potensi wisata malam, termasuk menyaksikan matahari terbenam dari sudut barat yang terbuka langsung ke cakrawala.
Malam kemarin, langit cerah tanpa awan memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan matahari tenggelam secara utuh. Warna jingga yang perlahan berubah menjadi merah keunguan memantul di permukaan laut, menciptakan panorama yang membuat banyak pengunjung mengabadikannya melalui ponsel.
“Sunset di sini tidak kalah dengan tempat-tempat terkenal lainnya. Yang membedakan, kita bisa langsung lanjut menyuluh dan bakar ikan setelahnya,” kata Hasbullah, warga lokal yang juga bertugas sebagai relawan kebersihan pantai.
Ia mengatakan, warga setempat menyambut baik tren baru ini, meski mengingatkan bahwa aktivitas malam harus dilakukan dengan tetap menjaga ekosistem pesisir. “Kami berharap pengunjung tidak membuang sampah sembarangan dan tidak merusak karang atau rumput laut,” tambahnya.
Menurutnya, tradisi menyuluh ikan sudah lama dikenal masyarakat pesisir sekitar, tapi baru belakangan ini menarik minat wisatawan. “Dulu, ini hanya aktivitas kami sebagai nelayan kecil. Tapi sekarang jadi bagian dari wisata. Asal jangan dijadikan tontonan yang merusak,” ujarnya.
Untuk saat ini, belum ada pungutan resmi dari pemerintah desa atau pengelola pantai bagi pengunjung yang ingin berkemah. Namun, warga sekitar membuka jasa penyewaan peralatan tenda dan alat menyuluh dengan harga bervariasi antara Rp25.000 hingga Rp75.000.
Salah satu kelompok yang rutin mengunjungi Toronipa adalah komunitas Toronipa Camping Circle. Mereka mengajak warga menjaga kebersihan dan mengajarkan pengunjung baru untuk mendirikan tenda dan mengelola api unggun secara aman. “Kami ingin agar kegiatan ini berkelanjutan, tapi tetap ramah lingkungan,” ujar Dodi, salah satu anggotanya.
Toronipa sendiri memiliki sejarah panjang sebagai destinasi wisata keluarga sejak tahun 1980-an. Dikenal dengan pantainya yang landai dan aman untuk anak-anak, Toronipa kini mulai bergeser menjadi tempat bagi wisata berbasis pengalaman langsung (experiential tourism) yang mengedepankan aktivitas alam.
Namun, peningkatan jumlah pengunjung juga menghadirkan tantangan baru, terutama terkait pengelolaan kawasan. Beberapa pengunjung mengeluhkan minimnya penerangan dan papan petunjuk. Selain itu, keamanan malam hari menjadi sorotan.
“Kalau semakin ramai, harus ada petugas tetap atau relawan jaga malam. Supaya aman buat keluarga yang baru pertama kali kemah,” ujar Ani, pengunjung dari Kolaka.
Hingga Minggu pagi (13/7), para pengunjung mulai meninggalkan pantai dengan membawa kembali sampah masing-masing. Sejumlah komunitas juga mengadakan aksi bersih pantai sebagai bagian dari komitmen menjaga lingkungan. Warga berharap tren ini berlanjut tanpa merusak keaslian pantai yang telah lama menjadi kebanggaan Konawe dan sekitarnya. (ADV)







