ANOATIMES. COM, BOMBANA — Tiga wisatawan asal Kota Kendari menggelar petualangan alam dengan mendaki dan berkemah di Bukit Teletubbies, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, pada Minggu (28/7). Kawasan perbukitan yang terletak di zona Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai itu kini kian populer sebagai destinasi petualangan ringan karena lanskap savana unik dan pemandangan cakrawala 360 derajat dari puncaknya.
Dengan kondisi cuaca cerah dan angin sejuk, ketiga wisatawan — Linda (24), Rifky (26), dan Wahyu (23) — memulai perjalanan dari Kecamatan Poleang Barat pukul 06.45 WITA, menuju titik pendakian di Dusun Tinabite. Perjalanan menempuh jalur tanah merah sepanjang 8 kilometer, yang dapat dilalui kendaraan roda dua.
“Ini pertama kalinya saya naik ke Bukit Teletubbies. Sebelumnya cuma lihat dari Instagram. Tapi ternyata pemandangannya lebih indah dari yang saya bayangkan,” ujar Linda, mahasiswa asal Kendari, saat ditemui di area puncak.
Sesampainya di area dasar bukit sekitar pukul 08.20, mereka langsung melakukan pendakian ringan. Jalur mendaki sepanjang 2 kilometer itu tidak memiliki tanjakan curam, namun cukup menguras tenaga karena terbuka tanpa naungan pepohonan. Hamparan rumput kekuningan sepanjang mata memandang memberi kesan berada di luar negeri — mirip sabana Afrika atau lanskap di Selandia Baru.
“Saat mendaki, tidak ada suara kendaraan atau kebisingan. Hanya angin, suara jangkrik, dan sesekali burung kecil. Suasananya sangat menenangkan,” kata Rifky, sambil menunjukkan rekaman drone dari ketinggian yang mereka bawa.
Panorama Terbuka 360 Derajat
Puncak Bukit Teletubbies yang mereka capai sekitar pukul 09.15 WITA menawarkan panorama 360 derajat yang memukau. Dari sisi timur tampak lekukan hutan rawa, sementara dari barat membentang deretan bukit-bukit kecil seperti gelombang yang membeku. Pagi itu langit cerah tanpa awan, membuat jarak pandang mencapai puluhan kilometer.
Bukit ini dinamai “Teletubbies” oleh warga lokal karena bentuknya yang bulat, landai, dan berjajar rapi menyerupai latar film kartun anak-anak terkenal. Saat musim penghujan, bukit ini berwarna hijau terang. Namun di musim kemarau seperti sekarang, ia berubah menjadi kuning keemasan—membuat suasana menjadi lebih eksotis dan dramatis untuk difoto.
“Waktu sampai puncak, kami langsung buka tenda kecil dan masak kopi. Angin di atas cukup kencang, jadi kami harus pasang tali tambahan untuk tenda,” ujar Wahyu.
Mereka membawa perlengkapan standar pendakian ringan: satu tenda dome untuk tiga orang, dua termos air, kompor portabel, dan matras lipat. Seluruh kebutuhan dibawa menggunakan tas carrier masing-masing. Tidak tersedia air bersih di atas, sehingga semua persiapan dilakukan sejak dari kota.
Lokasi Favorit Pemburu Sunrise dan Sunset
Menurut warga setempat, Bukit Teletubbies telah menjadi incaran komunitas pecinta alam sejak lima tahun terakhir. Meski belum dikelola secara resmi sebagai destinasi wisata, jumlah pengunjung meningkat terutama saat akhir pekan dan musim kemarau. Wisatawan biasanya datang untuk berburu sunrise atau sunset, serta foto pre-wedding.
“Kalau bulan Juli seperti ini, saban hari ada saja yang naik. Kadang anak kuliah, kadang keluarga yang bawa anak-anak. Mereka suka datang sore untuk lihat matahari tenggelam,” ujar Ahmad (37), warga Desa Laea, yang sering membantu pengunjung menunjukkan arah ke jalur pendakian.
Jalur menuju bukit sebagian besar masih alami. Belum ada papan penunjuk atau pagar pembatas, sehingga wisatawan harus berhati-hati. Namun kontur bukit yang ramah — tidak terlalu tinggi atau berbatu — menjadikannya cocok untuk pemula.
“Kalau dari sisi selatan, ada jalur yang lebih landai. Tapi agak jauh mutarnya. Kami pilih jalur utara karena lebih cepat, walau sedikit menanjak,” tambah Rifky.
Aktivitas Malam: Langit Penuh Bintang
Ketiga wisatawan itu memutuskan bermalam di puncak bukit, demi menikmati langit malam yang bebas polusi cahaya. Sekitar pukul 19.00 WITA, suhu mulai turun drastis hingga 18 derajat Celsius. Meski tidak seekstrem pegunungan tinggi, embusan angin malam membuat udara cukup dingin sehingga mereka mengandalkan sleeping bag untuk tidur.
“Langitnya luar biasa jernih. Rasi bintang terlihat jelas. Kami sempat lihat satu meteor melintas juga. Rasanya seperti bukan di Indonesia,” ujar Linda.
Mereka juga memanfaatkan waktu malam untuk berbincang dan memasak makanan ringan. Suara alam mendominasi: angin yang menggoyang ilalang, suara burung malam, dan gemuruh serangga dari kejauhan. Tidak ada sinyal seluler yang stabil, sehingga pengalaman itu benar-benar terasa seperti lepas dari dunia luar.
“Kami memang sengaja tidak bawa banyak gawai. Hanya kamera, GPS, dan radio komunikasi. Tujuannya menikmati alam sepenuhnya,” ujar Wahyu.
Aman untuk Pendaki Pemula
Meski tergolong perbukitan rendah, Bukit Teletubbies tetap memerlukan kesiapan fisik dan logistik. Tidak tersedia fasilitas penunjang seperti toilet, sumber air, atau pos jaga. Pengunjung harus membawa semua keperluan sendiri, termasuk menjaga kebersihan lingkungan.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Bombana, Muh. Nasrun, saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa lokasi ini berada dalam zona pemanfaatan terbatas Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.
“Kami mengizinkan aktivitas wisata nonkomersial selama tidak merusak vegetasi dan tidak membuang sampah. Pengunjung wajib lapor ke pos penjagaan jika lewat jalur resmi,” katanya melalui pesan singkat.
Tiga sahabat itu menuruni bukit pada pagi hari berikutnya, setelah menyaksikan sunrise dari sisi timur puncak. Matahari yang perlahan muncul di balik lapisan bukit mengubah warna ilalang dari emas menjadi keperakan.
“Ini perjalanan yang akan kami kenang terus. Bukit ini indah dan damai. Kami harap tetap terjaga seperti ini,” ujar Rifky sebelum beranjak turun.
Petualangan ringan di Bukit Teletubbies Bombana menjadi bukti bahwa keindahan alam Sulawesi Tenggara masih menyimpan kejutan. Meski sederhana dan belum dikelola profesional, kawasan ini menawarkan pengalaman mendalam bagi siapa saja yang ingin bersatu dengan alam — tanpa perlu mendaki gunung tinggi atau bepergian jauh. (ADV)







