OPINI :
L.M Ihsan Thamrin,S.Psi.,M.Psi
Akademisi UHO
Dinamika Pemilihan Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) 2026 membawa angin segar bagi iklim demokrasi di dunia akademik. Istilah jalan mulus yang kini dirasakan oleh para kandidat bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari penataan struktural yang tepat pada masa transisi ini. Langkah strategis kementerian pusat dalam merombak pimpinan sementara berhasil menciptakan fondasi yang kokoh, di mana aturan main sejak awal telah dipersepsikan adil dan setara oleh seluruh pihak yang berkompetisi.
Tahap penyaringan awal ini, Senat Universitas Halu Oleo telah menetapkan kesepuluh nama figur terbaik kampus yang akan bertarung memperebutkan kursi kepemimpinan UHO. Nama-nama 10 calon rektor tersebut dikelompokkan bersama dalam satu barisan resmi, yang terdiri dari Dr. Baru Sadarun, S.Pi., M.Si., Prof. Dr. Edy Karno, S.Pd., M.Pd., Dr. H. Herman, S.H., L.L.M., Prof. Dr. Ida Usman, S.Si., M.Si., Prof. Dr. La Ode Santiaji Bande, S.P., M.P., Prof. Ma’ruf Kasim, S.Pi., M.Si., Ph.D., Dr. Muliddin, S.Si., M.Si., Prof. Dr. Ruslin, S.Pd., M.Si., Prof. Dr. Ir. Takdir Saili, M.Si., dan Prof. Dr. Yusuf Sabilu, M.Si. Seluruh kandidat ini dipastikan memulai kompetisi dengan posisi tawar yang setara tanpa adanya intervensi sepihak.
Momentum krusial berikutnya akan ditandai pada tanggal 29 Juni 2026, di mana kesepuluh kandidat tersebut dijadwalkan untuk melaksanakan penyampaian visi, misi, dan program kerja strategis mereka. Agenda pemaparan ini menjadi saringan pertama yang sangat ketat karena ditujukan untuk mencari dan mengerucutkan posisi menjadi 3 besar dari total 10 calon yang ada. Secara psikologi politik, momen adu gagasan ini menguji kesiapan kognitif dan ketahanan mental setiap calon dalam menawarkan arah masa depan UHO di hadapan para anggota Senat.
Kondusifnya atmosfer kompetisi menjelang penyaringan 3 besar ini tidak terlepas dari peran penting Plt Rektor saat ini, yaitu Prof. Dr. Khairul Munadi, S.T., M.Eng. Kehadiran beliau yang juga menjabat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) membawa efek netralitas pihak luar (out-group neutrality) yang sangat kuat di lingkungan kampus. Sebagai figur independen dari kementerian pusat, ia bertindak sebagai “wasit yang objektif” yang mampu memotong kecurigaan antarkelompok (intergroup suspicion) dan menjamin rasa aman psikologis (psychological safety) bagi semua calon.
Intervensi psikologi politik yang bersih dan tertata ini, Pemilihan Rektor UHO 2026 berhasil bertransformasi dari sekadar perebutan kekuasaan menjadi sebuah festival gagasan yang sehat. Penjagaan netralitas oleh Prof. Khairul Munadi memberikan jaminan bahwa proses penyaringan menuju 3 besar pada akhir Juni ini berjalan dengan jujur, terbuka, dan transparan. Pada akhirnya, siapa pun yang berhasil lolos ke tahap berikutnya akan memiliki legitimasi moral yang kuat untuk membawa Universitas Halu Oleo menjadi perguruan tinggi yang semakin unggul.






