Menembus Langit Savana, di Pulau Buton

  • Whatsapp
Menembus Langit Savana, di Pulau Buton

ANOATIMES. COM, KENDARI –  Sebuah rombongan petualang asal Kota Kendari melakukan ekspedisi darat ke sejumlah kawasan padang savana di sekitar Kota Baubau dan Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. Perjalanan yang berlangsung selama tiga hari ini bertujuan untuk mengenalkan potensi wisata alam daratan di luar jalur wisata bahari yang selama ini mendominasi promosi pariwisata di kawasan tersebut.

Rombongan terdiri dari anggota komunitas pecinta alam “Pwtualng”, pelajar, serta dokumentator independen. Mereka memulai perjalanan pada Sabtu malam, 28 Juni 2025, menyeberangi Teluk Kendari menuju Pelabuhan Labuan Amolengo, lalu melanjutkan perjalanan darat sejauh lebih dari 180 kilometer menuju Kota Baubau dan wilayah perbukitan di sekitarnya. Di tengah perjalanan, mereka singgah di beberapa titik panorama alam dan lokasi strategis untuk dokumentasi medan.

Koordinator rombongan, Rian Darmawan (29), mengatakan ekspedisi ini merupakan bagian dari agenda “Petualangan Daratan Buton”, yang bertujuan mengeksplorasi potensi wisata savana dan pegunungan di Pulau Buton. Menurutnya, destinasi darat seperti padang rumput dan bukit sering kali terabaikan, padahal menyimpan daya tarik kuat untuk wisata minat khusus seperti trekking, camping, dan fotografi alam.

“Kita terlalu sering melihat Buton dari laut. Padahal, di balik perbukitan itu, ada bentangan savana, udara sejuk, dan pemandangan terbuka yang luar biasa. Kami ingin menunjukkan bahwa wisata darat juga bisa jadi daya tarik utama,” ujar Rian saat ditemui di area Bukit Lamando, Minggu pagi.

Rute ekspedisi dimulai dari kawasan Kelurahan Lakologou di Kecamatan Kokalukuna, Kota Baubau. Dari titik ini, rombongan menyusuri savana kecil yang berada di perbukitan belakang perumahan warga, lalu melanjutkan perjalanan menuju kawasan Bungi, tempat savana Teletubbies yang mulai dikenal masyarakat lokal sebagai tempat foto dan nongkrong akhir pekan. Setelah itu, mereka bergerak ke arah selatan menuju Bukit Lamando dan savana Rongi di wilayah Kabupaten Buton Selatan.

Menembus Langit Savana, di Pulau Buton

Ketiga titik ini memiliki karakteristik savana yang berbeda. Savana Lakologou berukuran kecil namun berada dekat kota, memudahkan akses dan cocok untuk wisata keluarga. Savana Teletubbies di Bungi menawarkan kontur bukit bergelombang dan vegetasi rumput tinggi dengan latar belakang cakrawala laut. Sementara savana Rongi atau Bukit Lamando menjadi yang paling luas dan alami, dengan jalur pendakian sepanjang 1 kilometer yang harus ditempuh dengan berjalan kaki dari kaki bukit.

Salah satu peserta ekspedisi, Hani (24), mengaku tak menyangka bisa menemukan lanskap seindah itu di wilayah Baubau. “Dari atas Bukit Lamando, saya merasa seperti berada di tempat yang sama sekali bukan Indonesia. Kabut lembah muncul pagi-pagi, lalu menghilang perlahan begitu matahari naik. Angin di sana sangat sejuk dan tenang. Rasanya damai sekali,” katanya.

Warga lokal pun menyambut kedatangan para petualang dengan antusias. Lia (23), pemuda Desa Rongi yang ikut menemani rombongan menuju puncak Bukit Lamando, menyebutkan bahwa kawasan tersebut memang kerap dikunjungi pendaki lokal pada akhir pekan, namun belum banyak dikenal wisatawan dari luar daerah. “Biasanya orang Baubau atau anak muda Buton Selatan saja yang naik. Kalau ada yang dari Kendari, apalagi komunitas, kami senang bisa kenalan dan bantu tunjuk jalur,” ujarnya.

Meski potensinya besar, fasilitas wisata di kawasan savana masih sangat minim. Tidak ada toilet umum, warung makan, atau tempat sampah permanen. Jalur pendakian pun belum ditata secara profesional dan masih berupa tanah merah yang licin saat hujan. Namun kondisi ini justru memberi nuansa alami yang masih terjaga, membuat pengalaman menjadi lebih otentik dan menantang.

Amiruddin (41), tokoh masyarakat Desa Hendea, mengakui bahwa belum ada perhatian serius dari pemerintah untuk pengembangan kawasan savana sebagai destinasi wisata. Ia berharap kehadiran komunitas seperti Pwtualng bisa mendorong pemerintah daerah membuat langkah-langkah awal, setidaknya dalam bentuk pelabelan jalur resmi dan pembinaan masyarakat lokal sebagai pemandu.

“Kalau sudah ada pendaki dari luar seperti ini, artinya tempat ini sudah mulai dikenal. Kami tidak minta dibangun besar-besaran, cukup dibantu dengan jalan setapak, papan informasi, dan sosialisasi agar warga bisa ikut menjaga,” kata Amiruddin.

Selain berkemah dan memotret, rombongan Pwtualng juga melakukan edukasi ringan kepada anak-anak desa yang tinggal di sekitar kawasan bukit. Mereka memperkenalkan pentingnya menjaga savana dari kerusakan, tidak membakar rumput, dan tidak meninggalkan sampah. Beberapa anak terlihat antusias mengikuti kegiatan bermain sambil belajar di bawah tenda komunitas yang didirikan di puncak bukit.

Petualangan yang berlangsung selama dua malam itu ditutup dengan ritual kecil di puncak Bukit Lamando: pembacaan janji petualang dan pelepasan bendera komunitas sebagai simbol bahwa kawasan itu telah menjadi bagian dari rute sah ekspedisi mereka. Rombongan kemudian kembali ke Kota Baubau pada Senin pagi, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kendari melalui jalur darat dan laut.

Rian menegaskan bahwa mereka tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga untuk membangun relasi dengan warga lokal dan mengangkat cerita dari tempat-tempat yang belum tersentuh promosi wisata besar. Ia berencana merilis dokumentasi ekspedisi ini dalam bentuk video dan buku mini perjalanan, yang akan dibagikan gratis kepada sekolah-sekolah di Kendari dan Baubau.

“Kami percaya wisata harus memberi manfaat langsung ke masyarakat, bukan sekadar lewat,” ujar Rian. “Dan itu bisa dimulai dari hal sederhana: hadir, berinteraksi, lalu bercerita dengan jujur.”

Hingga akhir Juni, kawasan padang savana di Baubau belum tercantum dalam peta wisata resmi pemerintah daerah, namun dengan semakin banyaknya kunjungan dari komunitas luar, potensi kawasan tersebut diyakini akan semakin dikenal. Seiring waktu, warga berharap kawasan savana mereka tidak hanya menjadi tempat berfoto, tapi juga menjadi ruang edukasi, pelestarian, dan jembatan silaturahmi antardaerah. (ADV)

Pos terkait