Menyusuri Rimba Menuju Air Terjun Amajapo, Surga Tersembunyi di Buton Selatan

  • Whatsapp
Menyusuri Rimba Menuju Air Terjun Amajapo, Surga Tersembunyi di Buton Selatan

ANOATIMES.COM, BUTON SELATAN – Tiga wisatawan asal Kendari menapaki jalur setapak di pedalaman Buton Selatan untuk menyambangi Air Terjun Amajapo, salah satu destinasi alam tersembunyi di Desa Sandang Pangan, Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan. Perjalanan yang mereka tempuh bukan sekadar kunjungan wisata, tetapi sebuah petualangan mendalam yang mempertemukan mereka dengan bentang alam Sulawesi Tenggara yang masih perawan.

Ketiganya—Rika Amelia (30), Danu Prasetyo (29), dan Irfan Latuconsina (31)—tiba di Desa Sandang Pangan pada Jumat pagi, 11 Juli 2025, menggunakan kendaraan roda dua dari arah Kota Baubau. Mereka berangkat sehari sebelumnya dari Kendari menuju Baubau dengan kapal cepat, lalu melanjutkan perjalanan darat sekitar 1,5 jam melewati jalan beraspal dan sebagian berbatu.

Bacaan Lainnya

“Saat kami tiba, suasana desa sangat tenang, hijaunya pegunungan dan aroma hutan langsung terasa. Warga juga sangat ramah. Kami sempat istirahat di rumah salah satu warga sebelum mulai trekking,” ujar Danu saat diwawancarai usai petualangan mereka pada Sabtu sore (12/7).

Perjalanan ke lokasi air terjun dimulai sekitar pukul 07.00 WITA dari titik awal di sekitar Sungai Wambaeko, tempat warga biasa mengambil air bersih. Dibantu oleh seorang pemandu lokal, La Ode Hafid (35), ketiganya menyusuri jalur yang sebagian besar masih berupa tanah alami dan batuan hutan.

Butuh waktu sekitar 50 menit berjalan kaki menembus semak, menyeberangi sungai dangkal, dan mendaki undakan tanah yang licin untuk sampai ke lokasi utama air terjun. Di sepanjang perjalanan, mereka disuguhi panorama vegetasi tropis khas Sulawesi, suara burung endemic, dan sesekali mendengar suara monyet hitam Sulawesi dari kejauhan.

“Jalurnya memang menantang, tapi itulah yang membuat kami merasa benar-benar dekat dengan alam. Tidak seperti tempat wisata biasa yang sudah dilapisi beton dan ramai,” ujar Rika.

Begitu tiba di lokasi, rasa lelah terbayar lunas. Air Terjun Amajapo menampakkan diri dalam aliran deras setinggi sekitar 12 meter, menghantam bebatuan kapur dan membentuk kolam alami yang bening dan sejuk. Udara di sekitar lokasi terasa lebih dingin, dan sinar matahari yang menembus sela dedaunan menciptakan pantulan cahaya di permukaan air.

“Ini luar biasa indah. Airnya jernih, dingin, dan alamnya benar-benar masih asli,” kata Irfan, yang langsung melepas sepatu dan berendam di kolam di bawah air terjun. “Tidak ada suara kendaraan, tidak ada polusi. Ini pengalaman spiritual juga buat kami.”

La Ode Hafid, pemandu lokal yang juga warga asli Desa Sandang Pangan, mengatakan Air Terjun Amajapo sudah lama dikenal warga sekitar dengan nama “Bumbula Amajapo” dan dianggap sebagai tempat sakral yang perlu dihormati.

“Dulu hanya warga desa yang datang ke sini, biasanya untuk mandi atau upacara adat kecil. Tapi sejak mulai ada unggahan media sosial tahun-tahun terakhir, sudah banyak pengunjung dari luar,” ungkap Hafid.

Menurutnya, desa menyambut baik kunjungan wisatawan, namun tetap menjaga nilai-nilai kearifan lokal. Ia berharap para pengunjung menghormati lingkungan dan tidak meninggalkan sampah.

“Kami senang kalau wisatawan datang dan menikmati alam. Tapi tolong jangan rusak tempat ini. Jangan bawa botol plastik dan buang sembarangan. Ini tempat sakral juga bagi kami,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Sandang Pangan, Nasrullah, yang ditemui terpisah, menyampaikan bahwa pihak desa sedang menyusun peraturan desa untuk mendukung pengembangan wisata alam Amajapo secara berkelanjutan.

“Kami ingin Amajapo menjadi destinasi ekowisata yang tidak hanya dinikmati oleh luar, tapi juga membawa manfaat ekonomi bagi warga. Kami sudah mulai siapkan kelompok pemandu lokal dan titik istirahat di sekitar Sungai Wambaeko,” ujarnya.

Menurut Nasrullah, pembangunan fasilitas akan dilakukan seminimal mungkin agar tidak merusak ekosistem. Fokus utama adalah pelatihan warga dan pembentukan sistem pengelolaan berbasis masyarakat.

“Kalau bisa desa yang kelola langsung, bukan investor dari luar. Warga kami punya semangat, mereka tahu medan, mereka bisa jadi pemandu, petugas kebersihan, dan pelaku ekonomi lokal,” tambahnya.

Rika, Danu, dan Irfan sendiri mengaku mendukung pendekatan ekowisata yang dijalankan desa. Mereka berharap lokasi seperti Amajapo tidak berubah menjadi destinasi komersial massal.

“Kami justru datang ke sini karena kealamiannya. Kalau nanti sudah ada kafe, resort, dan ramai seperti tempat lain, justru hilang daya tariknya,” ujar Rika.

Selama dua hari satu malam di desa, mereka tidak hanya menjelajahi Air Terjun Amajapo, tapi juga menyempatkan diri mengunjungi Pemandian Wambaeko dan berbincang dengan warga tentang sistem pembangkit mikrohidro yang menjadi sumber listrik utama di desa tersebut.

“Saya kagum, ternyata desa ini punya pembangkit listrik dari air sungai sendiri. Sederhana tapi berdaya guna. Ini contoh kemandirian desa yang luar biasa,” kata Irfan.

Sebelum kembali ke Kendari, ketiganya sepakat akan merekomendasikan Amajapo kepada komunitas mereka di media sosial, tapi dengan penekanan agar calon pengunjung datang dengan kesadaran lingkungan tinggi.

“Kami ingin tempat ini tetap seperti ini. Kalau datang, datanglah dengan hormat. Jangan anggap ini sekadar tempat liburan. Ini rumah bagi banyak makhluk dan masyarakat lokal,” kata Danu menutup pembicaraan.

Dengan suasana alami yang masih terjaga, masyarakat lokal yang ramah, dan semangat pelestarian lingkungan yang terus dijaga, Air Terjun Amajapo menjelma sebagai salah satu destinasi unggulan baru di Sulawesi Tenggara. Di tengah derasnya arus wisata massal, Amajapo menjadi pengingat bahwa petualangan sejati tidak selalu hadir dalam kemasan mewah—kadang, cukup sepasang sepatu, hutan yang hidup, dan air yang jernih. (ADV)

Pos terkait