ANOATIMES. COM, MUNA – Pemerintah Desa Wakumoro, Kecamatan Parigi, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, kembali mengangkat potensi wisata lokal melalui pengembangan destinasi alam Permandian Fotuno Rete. Tempat ini menjadi perhatian masyarakat dan wisatawan karena kejernihan airnya serta keberadaan ikan endemik yang langka, dikenal dengan nama lokal ikan fotuno (Oryzias woworae).
Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah kunjungan wisatawan ke Permandian Fotuno Rete meningkat, terutama saat akhir pekan dan masa libur panjang. Kepala Desa Wakumoro, La Ode Haruna, mengatakan bahwa pihaknya telah mulai melakukan langkah-langkah penataan area wisata secara bertahap sejak awal 2024.
“Kami melihat animo masyarakat dan wisatawan cukup tinggi, terutama karena daya tarik kolam alami ini sangat kuat. Maka dari itu, kami mulai fokus untuk memperbaiki akses jalan, kebersihan, dan fasilitas umum di sekitar lokasi,” ujar Haruna saat ditemui di kantor desa, Senin (7/7/2025).
Permandian Fotuno Rete terletak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Raha dan dapat ditempuh dalam waktu 30–40 menit menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Lokasinya berada di tengah kawasan hutan desa yang masih alami, dengan pepohonan tinggi yang menaungi kolam berair jernih. Kolam ini bersumber dari mata air alami yang keluar dari celah batuan kars.
Salah satu daya tarik utama Fotuno Rete adalah ikan fotuno, jenis ikan kecil berwarna perak kebiruan yang hidup secara alami di dalam kolam tersebut. Ikan ini diketahui termasuk dalam spesies Oryzias woworae, ikan endemik dari Sulawesi Tenggara yang tergolong langka. Berdasarkan keterangan warga, ikan tersebut sudah menghuni kolam sejak puluhan tahun lalu.
“Ikan-ikan kecil itu hidup bebas dan tidak pernah pergi dari kolam. Kami sudah mengenal ikan fotuno sejak kecil, dan keberadaannya menjadi salah satu alasan wisatawan datang ke sini,” kata Albaria Nurmazizi, pemuda asal Wakumoro, kepada wartawan.
Kejernihan air kolam membuat dasar kolam terlihat jelas, lengkap dengan tumbuhan air dan gerombolan ikan kecil yang berenang bebas. Kedalaman kolam utama mencapai sekitar tiga meter, dan di salah satu sisi telah dipasang papan loncat sebagai fasilitas tambahan bagi pengunjung yang ingin berenang.
Selain itu, di sekitar area kolam terdapat gazebo yang disediakan untuk tempat bersantai. Sejumlah warung kecil milik warga lokal juga tersedia, menjual makanan dan minuman ringan bagi pengunjung. Di pintu masuk kolam, dua pohon besar tumbuh berdekatan, membentuk gerbang alami yang kini menjadi salah satu spot foto favorit wisatawan.
Meski memiliki potensi besar, pengelolaan kawasan wisata ini masih dilakukan secara swadaya oleh pemerintah desa bersama masyarakat setempat. Haruna menyebutkan bahwa dalam waktu dekat, pihak desa berencana membentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) untuk mendukung pengelolaan dan promosi kawasan Fotuno Rete secara berkelanjutan.
“Pembentukan Pokdarwis sudah kami bahas di tingkat desa. Ini penting agar pengelolaan tidak hanya dilakukan secara informal, tapi ada struktur yang jelas, termasuk dalam hal retribusi dan kebersihan,” ujarnya.
Saat ini, belum ada pungutan resmi yang diberlakukan bagi pengunjung, kecuali pada masa-masa libur tertentu seperti Lebaran dan Tahun Baru, di mana tiket masuk dikenakan sebesar Rp5.000 untuk mendukung operasional dan kebersihan kawasan.
Menurut data sementara yang dihimpun oleh perangkat desa, jumlah pengunjung Fotuno Rete pada bulan Juni 2025 mencapai lebih dari 800 orang, meningkat hampir dua kali lipat dibanding bulan Mei. Peningkatan ini disebabkan oleh promosi yang dilakukan melalui media sosial serta kunjungan sejumlah travel blogger dan fotografer alam.
Di samping keindahan alam dan potensi pariwisata, kawasan Fotuno Rete juga memiliki nilai sejarah. Di area mata air ini terdapat makam PYM La Ode Dika, Raja Muna ke-28 yang dikenal dengan gelar Omputo Komasigino. Makam tersebut sering dikunjungi oleh warga dari berbagai daerah yang ingin berziarah atau sekadar mengenal sejarah lokal.
“Banyak yang datang bukan hanya untuk berwisata, tapi juga karena ingin melihat langsung makam raja. Ini menjadi tambahan daya tarik yang khas karena tidak semua tempat wisata alam memiliki unsur sejarah yang kuat,” kata Ridwan, tokoh masyarakat Desa Wakumoro.
Dinas Pariwisata Kabupaten Muna menyatakan mendukung penuh pengembangan Fotuno Rete sebagai destinasi wisata unggulan desa. Kepala Seksi Objek Wisata Dinas Pariwisata, Nur Laili, mengatakan bahwa pemerintah daerah akan melakukan pendataan potensi wisata berbasis desa pada akhir Juli 2025.
“Kami sudah menerima laporan dari desa dan akan memasukkan Fotuno Rete dalam program pemetaan objek wisata prioritas. Ke depan, kami ingin dorong sinergi antara pemerintah daerah, desa, dan pelaku usaha lokal,” jelasnya saat dikonfirmasi via telepon.
Dalam jangka panjang, Dinas Pariwisata juga mempertimbangkan kemungkinan menjadikan Fotuno Rete sebagai bagian dari paket wisata alam dan budaya yang terintegrasi, mencakup rute wisata sejarah Kerajaan Muna dan destinasi alam lain di wilayah Parigi dan sekitarnya.
Sejumlah pengunjung yang ditemui menyatakan kesan positif terhadap kawasan tersebut. Salah satunya adalah Rachmawati, wisatawan asal Baubau, yang datang bersama keluarganya.
“Tempatnya sejuk, airnya bersih sekali, dan anak-anak senang melihat ikan-ikan kecil. Semoga bisa terus dijaga agar tetap alami seperti ini,” ujarnya.
Dengan kombinasi keindahan alam, keberadaan ikan endemik, serta nilai sejarah lokal, Permandian Fotuno Rete kini menjadi salah satu titik terang bagi pengembangan ekowisata berbasis desa di Kabupaten Muna. Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat terus bersinergi agar potensi ini berkembang tanpa merusak kelestarian lingkungan yang ada. (ADV)







