ANOATIMES.COM, KENDARI – Tiga mahasiswa asal Kendari, Sulawesi Tenggara, menggelar aktivitas kemah malam di Puncak Amarilis, Kelurahan Watu-Watu, Kecamatan Kendari Barat, pada akhir pekan lalu. Petualangan sederhana yang mereka lakukan pada Sabtu hingga Minggu, 20–21 Juli 2025 itu menjadi pengalaman tak terlupakan ketika mereka berhasil menyaksikan matahari terbit dari ketinggian 300 meter di atas Kota Kendari, ditemani udara dingin dan panorama lampu kota yang memesona.
Kegiatan tersebut bukan bagian dari agenda resmi organisasi pecinta alam, melainkan inisiatif pribadi tiga sahabat — Arman (22), Riska (21), dan Fandi (23) — mahasiswa dari Universitas Halu Oleo (UHO). Mereka memulai pendakian sekitar pukul 16.30 WITA dari Lorong Amarilis, menyusuri jalur tanah menanjak dengan bekal satu tenda dome, logistik ringan, dan kamera digital.
“Kami sudah lama ingin kemah di sini, tapi baru sempat sekarang karena jadwal kuliah dan cuaca. Untung cuaca bersahabat, jadi kami bisa nikmati pemandangan malam penuh lampu dari puncak,” kata Arman, mahasiswa semester tujuh Fakultas Kehutanan UHO, saat ditemui wartawan Minggu pagi (21/7) di lokasi.
Akses Mudah, Daya Tarik Meningkat
Puncak Amarilis dalam beberapa tahun terakhir memang semakin populer di kalangan generasi muda. Letaknya strategis, hanya 2–3 kilometer dari pusat kota Kendari, membuatnya bisa dijangkau dengan motor hingga permukiman terakhir. Dari sana, pengunjung hanya perlu berjalan kaki 30–45 menit untuk mencapai area puncak.

Pendakian ringan menuju puncak melewati jalan setapak yang dikelilingi semak, pepohonan kecil, serta aliran air terjun mini setinggi 5–7 meter di sisi kiri jalur. Beberapa titik sudah diberi papan penunjuk oleh karang taruna setempat, membuat pengunjung mudah mengenali arah.
“Kami sudah siapkan spot datar untuk kemah, ada juga yang bawa hammock. Suasananya tenang, hanya ada suara jangkrik dan angin malam,” ujar Fandi sambil menunjukkan foto-foto mereka saat berkemah. Ia mengaku tertarik kembali ke tempat itu untuk membuat konten dokumenter pendek.
Suasana Malam yang Magis
Malam hari di Puncak Amarilis menghadirkan pengalaman visual yang luar biasa. Dari titik tertinggi, pengunjung bisa menyaksikan hamparan lampu Kota Kendari — termasuk Teluk Kendari dan jalur Jembatan Bahteramas — tampak gemerlap seperti lautan cahaya. Kabut tipis juga mulai turun sekitar pukul 22.00, menciptakan efek siluet kota yang dramatis.
Riska, satu-satunya perempuan dalam tim tersebut, mengaku sempat khawatir karena belum pernah kemah di lokasi terbuka seperti itu. “Awalnya takut juga, tapi pas lihat pemandangan malam dan sunrise keesokan harinya, rasa takut itu hilang semua. Ini pengalaman luar biasa,” ujarnya sambil tertawa.
Menurutnya, meski tidak ada gangguan binatang liar, tetap diperlukan penerangan yang cukup dan komunikasi dengan warga sekitar sebelum naik. “Kami sempat lapor dulu ke warga di bawah, minta izin dan minta info cuaca. Mereka baik sekali, malah bantu tunjukkan jalur tercepat.”
Dukungan Komunitas Lokal
Ketua Karang Taruna Watu-Watu, La Ode Rustam, menyambut positif tren kunjungan wisatawan lokal ke Puncak Amarilis. Menurutnya, sejak pandemi mereda, jumlah pengunjung yang mendaki ke puncak untuk foto, kemah, atau sekadar menikmati pemandangan semakin meningkat.

“Anak-anak muda sekarang banyak yang datang. Ada yang bikin vlog, foto pre-wedding, bahkan acara komunitas. Kami di sini bantu arahkan supaya mereka tidak tersesat dan menjaga kebersihan,” ujarnya saat dihubungi lewat sambungan telepon.
Rustam mengatakan, pihaknya tidak memberlakukan tarif masuk resmi, namun ada biaya kebersihan atau parkir sebesar Rp5.000–Rp10.000 yang dikelola oleh pemuda lokal untuk operasional dasar seperti penunjuk arah, tong sampah, dan perawatan jalur.
“Kalau bisa bawa turun sampah sendiri, itu lebih bagus. Alam ini titipan bersama,” tambahnya.
Puncak Favorit untuk Upacara dan Camping
Selain untuk kemah pribadi, Puncak Amarilis juga sering digunakan oleh komunitas pemuda dan organisasi kampus untuk menggelar acara seperti pengibaran bendera 17 Agustus, pelatihan survival, atau malam keakraban.
Dinas Pariwisata Kota Kendari bahkan menyatakan niat menjadikan kawasan ini bagian dari paket wisata kota berbasis alam ringan, bersama destinasi seperti Teluk Kendari dan Pantai Nambo.
“Puncak Amarilis ini menarik karena aksesnya dekat dan potensi wisata malamnya sangat kuat. Nanti kita dorong lewat program wisata kota ramah komunitas,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Kendari, Hj. Marni M. Yusuf, kepada media pada Senin (22/7).
Harapan untuk Keberlanjutan
Meski potensial, beberapa pegiat lingkungan mengingatkan pentingnya pengelolaan berkelanjutan terhadap kawasan Puncak Amarilis. Dalam wawancara terpisah, Ketua Forum Hijau Sultra, Zulkarnain, menyoroti pentingnya sistem kontrol agar pengunjung tidak merusak vegetasi atau meninggalkan jejak sampah sembarangan.
“Tempat ini cantik karena masih alami. Kalau tidak dijaga, bisa rusak cepat. Kami harap pemkot dan komunitas lokal kerja sama lebih erat,” ujarnya.
Petualangan tiga mahasiswa di Puncak Amarilis hanyalah secuil dari banyak cerita yang lahir dari tempat ini. Lokasi sederhana di balik perbukitan Kota Kendari itu kini menjelma menjadi ruang pelarian, refleksi, dan kebersamaan bagi mereka yang ingin sejenak lepas dari hiruk-pikuk kota.
Bagi Arman dan teman-temannya, kemah malam itu bukan sekadar kegiatan akhir pekan. “Ini bukan hanya soal alam, tapi soal persahabatan dan kenangan. Di puncak, semuanya terasa lebih jujur,” katanya, sebelum mereka mulai berkemas turun kembali ke kota yang mulai terik di bawah sana. (ADV)







