ANOATIMES.COM, BUTON – Tiga wisatawan asal Kendari menjelajahi pesona Air Terjun Wabalamba di Desa Wining, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, pada Kamis (18/7), dalam sebuah perjalanan yang mereka sebut sebagai “petualangan paling liar dan murni” di wilayah selatan Sulawesi Tenggara.
Ketiganya—Nirmala Azzahra (27), Dedi Wahyudi (31), dan Harianto Putra (28)—memulai perjalanan dari Kota Baubau pada pagi hari sekitar pukul 06.30 WITA, menempuh rute darat sejauh hampir 50 kilometer menuju Desa Wining, pintu gerbang menuju kawasan Air Terjun Wabalamba yang tersembunyi di balik kawasan tambang aspal alami terbesar di dunia.
“Kami memang mencari tempat yang belum banyak dikunjungi, yang benar-benar menyatu dengan alam. Saat mendengar tentang air terjun ini yang terletak di balik tambang aspal, rasa penasaran kami langsung memuncak,” ujar Nirmala saat ditemui usai petualangan mereka, Kamis sore.
Sesampainya di desa sekitar pukul 08.00 WITA, mereka langsung disambut warga dan diarahkan untuk melapor ke pihak pengelola lokal. Karena akses menuju air terjun harus melalui area tambang aktif, mereka diwajibkan menggunakan jasa pemandu desa dan mengikuti jalur aman yang telah ditentukan.
La Ode Dama (42), pemandu lokal yang juga tokoh adat di Desa Wining, mengatakan bahwa kawasan Wabalamba memang tidak bisa dimasuki sembarangan.
“Jalurnya berada di sekitar bukit tambang. Harus hati-hati, karena selain licin, kadang ada aktivitas kendaraan berat. Maka kami sarankan selalu pakai pemandu,” jelasnya.
Dengan ditemani Dama, ketiga wisatawan berjalan kaki menyusuri jalur sepanjang 5 kilometer lebih, menanjak bukit batu kapur dan menelusuri semak belukar, sebelum akhirnya tiba di Air Terjun Wabalamba sekitar pukul 10.00 WITA. Suasana berubah drastis: dari panas dan kering di kawasan tambang, menjadi teduh, sejuk, dan lembab saat mulai mendekati kawasan hutan tropis.
“Peralihan atmosfernya luar biasa. Tadi panas, berdebu, tiba-tiba kami dikelilingi hijau, suara air, dan gemericik yang mengalir di antara batu. Rasanya seperti memasuki dunia lain,” kata Dedi.
Air Terjun Wabalamba menjulang setinggi sekitar 12 meter di antara dua tebing batu, dengan aliran air jernih yang membentuk kolam alami di bawahnya. Bebatuan di sekeliling tampak menghitam berkilau, kemungkinan besar karena kandungan aspal alami di sekitar lokasi. Di bagian atas, pepohonan besar menaungi area air terjun, menambah kesan sakral dan alami.
Harianto, yang hobi fotografi alam, menyebut Wabalamba sebagai salah satu lokasi terbaik yang pernah ia datangi di Sulawesi Tenggara.
“Tidak hanya airnya yang jernih, tapi juga komposisi batunya unik, pohon-pohonnya raksasa. Kalau tahu cara melihatnya, tempat ini benar-benar surga tersembunyi,” ujarnya sambil menunjukkan hasil bidikan drone-nya.
Menurut La Ode Dama, Air Terjun Wabalamba sudah sejak lama dikenal warga lokal, namun baru mulai ramai dikunjungi dalam lima tahun terakhir setelah muncul di media sosial. Meski demikian, pengunjung harian masih sangat terbatas, karena lokasi dan aksesnya cukup ekstrem.
“Biasanya yang datang orang lokal, mahasiswa pencinta alam, atau tamu dari komunitas konservasi. Belum pernah ramai. Dan kami memang batasi, agar tetap bersih dan lestari,” katanya.
Kepala Desa Wining, Jafar Ismail, menyampaikan bahwa Air Terjun Wabalamba masuk dalam rencana pengembangan desa wisata sejak 2023. Melalui kerja sama dengan platform Jadesta (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), desa telah menetapkan tarif masuk sebesar Rp10.000 per orang dan menyediakan pusat informasi sederhana bagi wisatawan.
“Yang kami prioritaskan adalah keamanan dan pelestarian lingkungan. Kami tidak buru-buru membangun fasilitas, karena kawasan ini sensitif dan berbatasan langsung dengan area pertambangan,” jelas Jafar.
Saat ini, fasilitas yang tersedia memang masih minim. Tidak ada toilet, warung, atau tempat penginapan di sekitar air terjun. Wisatawan hanya bisa beristirahat di rumah warga atau kembali ke Pasarwajo atau Baubau untuk akomodasi.
Namun bagi Nirmala, Dedi, dan Harianto, minimnya fasilitas justru menjadi nilai lebih.
“Justru itu yang kami cari. Kami tidak ingin tempat wisata yang sudah dipoles. Kami ingin yang murni, yang mengajak kami berkeringat dan merasa bahwa alam itu punya jiwa,” kata Nirmala.
Mereka juga sempat mengunjungi beberapa rumah warga dan melihat bagaimana masyarakat Desa Wining hidup berdampingan dengan alam dan tambang. Menurut mereka, masyarakat terlihat menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian sumber daya.
“Kami diberi makan singkong bakar, teh daun pandan, dan cerita-cerita tentang hutan ini. Itu pengalaman yang tidak bisa dibeli,” ujar Dedi.
Sebelum meninggalkan desa pada sore hari, mereka menitipkan donasi sukarela untuk kelompok pemandu dan membersihkan area sekitar air terjun dari sampah kecil yang terbawa dari luar. Mereka berharap Wabalamba bisa terus dijaga dan tidak berubah menjadi destinasi massal.
“Kami berharap desa bisa mempertahankan sistem berbasis komunitas. Kalau dikelola perusahaan besar, nanti hilang semuanya,” tegas Harianto.
Sementara itu, Dinas Pariwisata Kabupaten Buton menyambut baik semakin dikenalnya Wabalamba oleh wisatawan luar. Dalam pernyataan tertulis yang diterima redaksi, mereka menyatakan siap mendukung desa dalam menyusun regulasi pengunjung dan pelatihan pemandu lokal.
“Wabalamba adalah aset alam sekaligus identitas daerah. Kami tidak ingin terburu-buru menjadikannya destinasi komersial. Kami ingin menjadikannya model desa wisata berkelanjutan,” tulis Kepala Dinas, Nurhayati Rauf.
Dengan perjalanan yang menguras tenaga namun menyegarkan jiwa, Wabalamba sekali lagi membuktikan bahwa keindahan alam sejati seringkali tersembunyi di balik medan berat. Bagi mereka yang berani menyusuri jalan yang jarang dilalui, keajaiban itu menanti dalam wujud air, batu, dan kesunyian. (ADV)






