ANOATIMES.COM, KENDARI – Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari memperkuat perannya dalam mendorong transformasi sektor peternakan melalui inovasi, teknologi, dan hilirisasi hasil riset untuk mendukung ketahanan pangan serta target swasembada pangan nasional.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Seminar Inovasi dan Teknologi Peternakan (Intech) III yang digelar Fakultas Peternakan UHO Kendari, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi forum ilmiah, tetapi juga mempertemukan pemerintah, akademisi, pimpinan perguruan tinggi peternakan, pelaku sektor peternakan serta masyarakat dalam membahas masa depan peternakan Indonesia.
Seminar Intech III dirangkaikan dengan Musyawarah Nasional Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Peternakan Indonesia (FPPTPI) dan pengabdian kepada masyarakat melalui kolaborasi nasional.
Dekan Fakultas Peternakan UHO, Prof. Dr. Ir. Ali Bain, mengatakan rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi membawa hasil penelitian dan inovasi agar dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Ini sekaligus wujud dari upaya untuk hilirisasi hasil riset itu kepada masyarakat,” ujar Ali.
UHO Jadi Ruang Kolaborasi Nasional
Seminar Intech III yang digelar di Kendari menjadi ruang bertemunya akademisi dan pimpinan perguruan tinggi peternakan dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam Munas FPPTPI, pimpinan perguruan tinggi peternakan dari Aceh hingga Papua hadir untuk membahas penguatan pendidikan tinggi peternakan sekaligus kontribusinya terhadap pembangunan sektor peternakan nasional.
Menurut Ali, forum tersebut menjadi kesempatan penting bagi UHO untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta hasil riset dengan perguruan tinggi lainnya.
“Harapannya kita ada sharing knowledge, sharing riset, pengetahuan dari para narasumber yang pakar di bidang itu, baik unggas, kemudian ternak besar, dan juga pengembangan pakan ternak,” katanya.
Tidak berhenti pada forum akademik, Fakultas Peternakan UHO juga mengimplementasikan hasil riset melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 30–31 Juli 2026 di sejumlah desa dan kelurahan di Kota Kendari serta Kabupaten Konawe Selatan.
Para akademisi bersama mitra dari berbagai Fakultas Peternakan di Indonesia turun langsung memberikan pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat peternak.
Dari Kampus untuk Peternak.
Ali menegaskan, hilirisasi hasil riset menjadi salah satu fokus penting yang ingin didorong Fakultas Peternakan UHO.
Berbagai hasil penelitian yang dikembangkan akademisi tidak hanya berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi diupayakan dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Materi yang dibagikan mencakup pemuliaan ternak, teknologi pakan, penyediaan bibit hingga model pengembangan peternakan terintegrasi.
Model peternakan terintegrasi juga diarahkan untuk menghubungkan sektor peternakan dengan pertanian sehingga mampu menciptakan sistem produksi yang lebih efisien.
“Ini dalam rangka terciptanya ketahanan pangan nasional, sebagaimana program Bapak Presiden,” ujar Ali.
Pemerintah Dorong Hilirisasi
Penguatan peran perguruan tinggi tersebut mendapat dukungan pemerintah.
Staf Ahli Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc., IPU, yang hadir dalam Seminar Intech III mengatakan hilirisasi merupakan keharusan untuk meningkatkan nilai tambah produk peternakan.
Menurutnya, sektor peternakan tidak boleh hanya mengandalkan penjualan produk dalam bentuk bahan baku. Produk harus dikembangkan menjadi berbagai produk turunan sehingga memberikan keuntungan lebih besar bagi peternak dan pelaku usaha.
“Hilirisasi menjadi sebuah keharusan, karena di hilirisasi itulah mendapatkan nilai tambah dari sebuah produk,” kata Nasrullah.
Ia mencontohkan sapi yang selama ini banyak dikirim dalam kondisi hidup. Pola tersebut membutuhkan biaya logistik tinggi dan memiliki risiko penyusutan bobot maupun kematian ternak.
Dengan hilirisasi, sapi dapat diolah menjadi daging potong, sosis dan berbagai produk turunan lainnya sehingga lebih efisien dalam distribusi sekaligus memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Sapi itu tidak ada yang terbuang. Ayam itu tidak ada yang terbuang. Semua jadi duit. Tapi harus dihilirisasi,” katanya.
UHO Didorong Jadi Bagian Ekosistem Peternakan
Kehadiran pemerintah dalam forum yang digelar Fakultas Peternakan UHO menunjukkan pentingnya posisi perguruan tinggi dalam membangun ekosistem peternakan nasional.
Pemerintah saat ini mulai menyiapkan proyek percontohan hilirisasi ayam dan telur di empat provinsi, yakni Lampung, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Gorontalo.
Konsep tersebut mengintegrasikan pembibitan, pabrik pakan, peternakan, rumah potong hingga pengolahan dalam satu kawasan.
Meski Sulawesi Tenggara belum masuk tahap awal program tersebut, penguatan kapasitas akademik dan riset di UHO dinilai menjadi modal penting bagi daerah untuk mempersiapkan diri menghadapi pengembangan kawasan peternakan terintegrasi ke depan.
Sultra Perkuat Breeding dan Inseminasi Buatan
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sulawesi Tenggara, Muhammad Taufik, mengatakan kebutuhan daging dan telur di Sultra relatif masih terpenuhi.
Namun, peningkatan populasi ternak besar, khususnya sapi, masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah.
“Yang menjadi PR kita sekarang ini, untuk ternak besar, kita masih butuh penambahan melalui pemuliaan atau breeding,” katanya.
Pemprov Sultra juga terus mendorong penerapan inseminasi buatan (IB) sebagai salah satu teknologi untuk meningkatkan populasi ternak.
Taufik mengatakan Sultra telah memiliki tenaga inseminator yang cukup dan pemerintah daerah turut memfasilitasi kebutuhan semen atau straw serta nitrogen cair.
Kolaborasi pemerintah daerah dengan perguruan tinggi seperti UHO diharapkan dapat mempercepat penerapan teknologi peternakan di tingkat masyarakat.
UHO dan Masa Depan Peternakan Sultra
Seminar Intech III sekaligus mempertegas posisi Fakultas Peternakan UHO sebagai salah satu ruang akademik untuk mempertemukan riset, teknologi, kebijakan pemerintah dan kebutuhan masyarakat.
Melalui penguatan riset dan pengabdian kepada masyarakat, UHO tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan, tetapi juga mengambil bagian dalam menjawab tantangan pembangunan peternakan di Sulawesi Tenggara dan Indonesia.
Hilirisasi hasil riset menjadi jembatan agar inovasi yang lahir dari lingkungan kampus dapat diterapkan secara nyata oleh masyarakat.
Dengan kolaborasi antara UHO, pemerintah, dunia usaha dan peternak, sektor peternakan Sulawesi Tenggara diharapkan semakin produktif, berdaya saing dan mampu memberikan kontribusi terhadap agenda besar swasembada serta ketahanan pangan nasional. (ADV)






