Petualangan ke Desa Wabula, Menyusuri Permandian Ajaib dan Jejak Budaya yang Tak Lekang Waktu

  • Whatsapp
Petualangan ke Desa Wabula, Menyusuri Permandian Ajaib dan Jejak Budaya yang Tak Lekang Waktu
Ketgam : Kali Topa di Desa Wabula Kabupaten Buton Selatan. Foto : Anoatimes

ANOATIMES.COM, BUTON SELATAN — Pernahkah Anda membayangkan sebuah tempat di mana air tawar dan air asin bersatu dalam bentang lanskap yang dikelilingi pasir putih, pohon kelapa menjulang, dan di baliknya budaya leluhur yang masih hidup ratusan tahun lamanya?

Kalau belum, Desa Wabula di Kabupaten Buton Selatan bisa menjadi tujuan petualangan Anda berikutnya. Terletak di jantung Kecamatan Wabula, desa ini bukan sekadar kampung pesisir—ia adalah gerbang menuju alam liar yang bersahabat dan kebijaksanaan tua yang menyambut hangat para pengelana.

Bacaan Lainnya

Langkah Awal: Menjejak Pantai, Bertemu Kali Topa

Saya memulai perjalanan ini dengan berjalan kaki dari bibir pantai menuju sebuah spot unik bernama Kali Topa, hanya sekitar 150 meter dari garis laut. Di sinilah dimulainya keajaiban: pertemuan antara air tawar dan air laut, sebuah sungai mini yang mengalir tanpa henti meski dihimpit pasang surut Laut Banda.

Petualangan ke Desa Wabula, Menyusuri Permandian Ajaib dan Jejak Budaya yang Tak Lekang Waktu
Ketgam : Endang, salah satu pengunjung di Kali Topa

Di kiri-kanan, pohon kelapa berjajar rapi seperti menyambut kedatangan kita. Beberapa gazebo kecil berdiri di bawah kerindangan. Ini bukan resort mahal, tapi punya daya tarik alami yang tak tergantikan. Hembusan angin laut menyatu dengan gemericik air tawar. Rasanya seperti berdiri di antara dua dunia.

“Orang sini bilang ini tempat sakral sekaligus tempat santai,” ujar Wa Abe, warga asli Wabula yang saya temui sedang membersihkan sekitar gazebo. “Airnya tawar, tapi dekat banget dengan laut. Banyak yang datang cuma mau rasain sensasi mandi di sini,” tambahnya.

Dan memang, sensasi itu nyata. Saat kaki menapak ke air, terasa sejuk segar. Tapi hanya beberapa langkah ke depan, rasa asin mulai menyentuh kulit. Inilah Kali Topa—permandian alam yang menyatukan dua rasa dalam satu tempat.

Trek Budaya: Dari Rumah Adat ke Jejak Kerajaan Wabula

Petualangan saya tak berhenti di air. Desa Wabula juga menyimpan jejak budaya yang terjaga ketat oleh masyarakatnya. Di tengah kampung berdiri Galampa, rumah adat Suku Wabula yang hingga kini masih digunakan dalam pertemuan adat dan upacara spiritual.

Menurut warga, rumah ini dibangun tanpa paku. Kayu-kayunya saling mengikat dengan teknik tradisional. Di dalamnya, terdapat pusaka-pusaka seperti meriam dan benda sakral lainnya, peninggalan Kerajaan Wabula masa silam.

Di desa ini, sistem sosial masih sangat menjunjung adat. Bahkan, dalam struktur masyarakat, tatanan kekuasaan digambarkan seperti rumah tangga, di mana pemimpin adalah ayah dan rakyat adalah anak-anaknya. Sebuah pendekatan humanis yang sangat jarang kita temui di tempat lain.

“Kita ini masih jaga nilai-nilai lama, dari zaman Hindu sampai Islam masuk. Tapi semua diselaraskan. Budaya kami tidak ditinggalkan, malah diperkuat dengan nilai keislaman,” jelas Wa Abe.

Melihat Desa Lewat Mata Pengunjung

Saat saya duduk di salah satu gazebo, seorang pengunjung dari Kendari, Endang Yaddi, berbagi pengalamannya.

“Saya kira cuma pantai biasa. Tapi ternyata ada sungai air tawar di pinggir laut, terus desa ini masih pakai adat kayak zaman dulu. Keren banget sih. Tempatnya alami, belum dirusak,” katanya sambil menyeruput air kelapa muda yang dibeli dari warga sekitar.

Memang, di balik keindahan alam dan budaya yang kuat, Desa Wabula masih memiliki sisi yang perlu ditingkatkan. Akses jalan belum terlalu mulus, dan beberapa fasilitas seperti kamar mandi dan tempat ganti pakaian butuh perbaikan. Tapi justru inilah bagian dari petualangan itu—menemukan keindahan dalam kesederhanaan.

Ajak Teman, Siapkan Sepatu, dan Jelajahilah Wabula

Bagi para pecinta alam, budaya, dan fotografi, Wabula adalah kanvas yang belum banyak tersentuh. Anda bisa menjelajah pagi hari di Kali Topa, lanjut berkeliling desa untuk melihat aktivitas tenun tradisional, lalu menyaksikan matahari tenggelam di pinggir pantai sambil mendengar kisah para leluhur dari warga.

Untuk yang tertarik lebih dalam, Anda juga bisa ikut menyaksikan ritual adat Pido’ano Kuri, yakni tradisi syukuran sebelum musim tanam dan panen. Ritual ini penuh makna spiritual dan budaya, serta masih dijalankan oleh masyarakat setempat setiap tahunnya. (ADV)

Pos terkait