Anggalo dan Papan Dayung, Kala Ombak Tenang Membuka Ruang untuk Wisata Baru di Waworaha

  • Whatsapp
Anggalo dan Papan Dayung, Kala Ombak Tenang Membuka Ruang untuk Wisata Baru di Waworaha

ANOATIMES.COM, KONAWE – Di tengah gelombang laut yang bersahabat dan pasir putih yang membentang teduh di bawah sinar matahari Sulawesi Tenggara, sekelompok anak muda tampak berdiri tenang di atas papan selancar. Mereka tidak berselancar dengan kecepatan atau aksi akrobatik. Mereka mendayung—perlahan namun mantap—menyusuri bibir laut Pantai Anggalo, sebuah destinasi yang dulunya hanya dikenal oleh masyarakat Desa Waworaha.

Kini, pemandangan itu menjadi hal lazim di setiap akhir pekan. Pantai Anggalo bukan lagi sekadar garis pantai biasa di Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe. Sejak aktivitas stand-up paddle boarding atau selancar dayung diperkenalkan oleh komunitas lokal, wajah wisata di desa itu berubah secara perlahan namun pasti.

Bacaan Lainnya

Dari kejauhan, paddle board tampak seperti perpaduan antara olahraga, meditasi, dan eksplorasi. Para pemain berdiri tegak di atas papan lebar, membawa satu dayung panjang, lalu menyusuri permukaan laut yang nyaris tanpa gelombang. Keheningan air yang damai membuat mereka tampak seperti menari di atas kaca biru kehijauan.

Anggalo dan Papan Dayung, Kala Ombak Tenang Membuka Ruang untuk Wisata Baru di Waworaha

“Awalnya coba-coba saja, karena lihat di media sosial wisata Bali. Ternyata di Anggalo ini airnya juga cocok, tenang, dan jernih. Jadi kami beli beberapa papan dan mulai menawarkan ke pengunjung,” cerita Dedi Lawata, pemuda lokal yang kini menjadi koordinator paddle board di Pantai Anggalo.

Inisiatif itu dimulai awal 2024, ketika sejumlah warga muda di Waworaha melihat peluang dari potensi alam yang sudah lama mereka miliki. Dulu, Pantai Anggalo dikenal karena airnya yang tenang dan cocok untuk snorkeling. Namun daya tarik paddle board justru membawa semangat baru. Lebih dari sekadar permainan, ini adalah pengalaman menyatu dengan alam.

“Kalau naik paddle board pagi-pagi jam enam, bisa lihat ikan-ikan kecil lewat bawah papan. Kadang ada burung laut ikut terbang di atas. Rasanya seperti terapung di antara dua dunia,” ujar Liana, wisatawan dari Kendari yang sudah tiga kali kembali ke Anggalo sejak Februari lalu.

Daya tarik paddle board di Anggalo tidak hanya terletak pada aktivitas fisiknya. Lebih dari itu, ia menawarkan ruang reflektif. Laut yang tenang menjadi cermin luas, dan papan selancar menjadi alat untuk menyepi dari bising dunia. Di sinilah banyak pengunjung merasa menemukan kembali keterhubungan dengan alam yang selama ini hilang di balik rutinitas kota.

Menurut data dari komunitas wisata Desa Waworaha, setiap akhir pekan kini Pantai Anggalo menerima kunjungan hingga 200 orang. Dari jumlah itu, hampir separuhnya mencoba paddle board. Tarif sewanya relatif murah: Rp50.000 untuk 30 menit. Dengan tiga unit papan yang tersedia, pendapatan kolektif komunitas dari aktivitas ini mencapai lebih dari Rp30 juta per bulan.

Yang menarik, perputaran ekonomi ini tidak hanya berhenti pada penyewaan papan. Warga sekitar ikut terdampak. Warung jajanan lokal menjual pisang goreng, sarabba, dan kelapa muda. Ibu-ibu menyediakan tikar sewa. Anak-anak menjajakan gelang dari kerang. Semua menyatu dalam ekosistem wisata yang tumbuh dari bawah, bukan dari investor besar.

“Kami tidak ingin Anggalo dikuasai investor. Ini milik bersama. Jadi kami bentuk kelompok kerja, semua ada bagiannya,” jelas Kepala Desa Waworaha, La Ode Nasir, saat ditemui di balai desa.

Pengelolaan wisata Anggalo memang dilakukan secara gotong-royong. Tidak ada resort mewah. Tidak ada papan iklan besar. Yang ada adalah semangat menjaga, berbagi, dan merawat alam sambil tetap membuka ruang ekonomi. Beberapa pemuda bahkan dilatih khusus untuk mendampingi wisatawan pemula agar aman saat bermain paddle board.

Namun pertumbuhan ini tentu membawa tantangan. Dengan meningkatnya pengunjung, kebersihan pantai menjadi perhatian utama. Setiap sore, kelompok pemuda lokal mengadakan pembersihan rutin. Mereka juga menyiapkan papan edukasi berisi pesan-pesan konservasi agar wisatawan tidak membuang sampah sembarangan atau merusak ekosistem laut.

Anggalo dan Papan Dayung, Kala Ombak Tenang Membuka Ruang untuk Wisata Baru di Waworaha

“Kalau pantai kotor, semua orang rugi. Bukan cuma kami, tapi juga wisatawan yang datang ke sini untuk menikmati keindahan. Jadi kita jaga bersama,” tegas Dedi.

Semangat kolektif itu membuat Anggalo tidak sekadar menjadi objek wisata. Ia berubah menjadi ruang dialog antara masyarakat, alam, dan para pendatang yang ingin merasakan kedamaian. Tidak sedikit wisatawan dari luar daerah yang kemudian terlibat dalam aksi bersih pantai, atau menyumbang papan dayung baru untuk komunitas.

Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika rombongan mahasiswa dari Universitas Halu Oleo melakukan camping dan paddle board sekaligus menggelar pelatihan ekowisata untuk warga. Mereka menyebut Anggalo sebagai “laboratorium hidup wisata berbasis komunitas.”

Hari-hari di Anggalo kini penuh warna. Di pagi hari, cahaya matahari menyambut pantulan air yang nyaris tanpa gelombang. Paddle board meluncur pelan, membawa manusia dan bayangannya bersisian di atas air. Di siang hari, anak-anak berenang, remaja duduk di bawah pohon, dan ibu-ibu menyiapkan makanan bagi pengunjung. Sore hari, langit jingga menyapu pantai dan suara tawa mengisi angin.

Lebih dari semua itu, Pantai Anggalo kini menjadi contoh bagaimana desa bisa membangun wisata tanpa kehilangan jati dirinya. Mereka tidak menunggu investor atau kebijakan pusat. Mereka bergerak dengan apa yang mereka punya: laut, papan, dan semangat.

Seperti yang dikatakan Liana, “Saya datang ke sini bukan cuma untuk bermain air. Saya datang untuk mengingat bahwa alam tidak butuh banyak hal untuk membuat kita bahagia.”

Dan mungkin, di atas papan selancar yang meluncur pelan di antara riak kecil Pantai Anggalo, banyak jiwa sedang menemukan kembali arah pulang. (ADV)

Pos terkait