“Bersama Cegah Stunting, Wua-Wua Hadirkan Harapan Baru bagi Generasi Muda”

  • Whatsapp
"Bersama Cegah Stunting, Wua-Wua Hadirkan Harapan Baru bagi Generasi Muda"

ANOATIMES.COM, KENDARI – Stunting masih menjadi momok serius yang mengancam masa depan anak-anak Indonesia, termasuk di Kota Kendari. Lebih dari sekadar isu pertumbuhan fisik, stunting mencerminkan masalah kesehatan jangka panjang yang berdampak pada kualitas generasi, produktivitas bangsa, dan daya saing sumber daya manusia ke depan.

Yustin, Koordinator Gizi di Puskesmas Wua-Wua, menjelaskan bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak, ditandai dengan tinggi atau panjang badan yang tidak sesuai dengan usianya. Menurutnya, masalah ini tidak muncul tiba-tiba, tetapi telah dimulai sejak jauh sebelum anak dilahirkan.

Bacaan Lainnya

"Bersama Cegah Stunting, Wua-Wua Hadirkan Harapan Baru bagi Generasi Muda"

“Stunting biasanya dimulai dari masa remaja. Calon ibu yang tidak mendapat asupan gizi yang cukup saat remaja dan selama kehamilan sangat berisiko melahirkan anak stunting,” ungkap Yustin saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (16/7/2025).

Data dari 2005 hingga 2024 menunjukkan adanya tren penurunan angka stunting secara nasional. Namun, Yustin menegaskan bahwa penurunan tersebut bukan hasil manipulasi data, melainkan buah dari kerja keras yang berkelanjutan di lapangan.

“Penurunannya ada, tapi bukan hasil rekayasa. Ini hasil kerja nyata dan konsistensi dalam upaya pencegahan sejak dini,” tambahnya.

Puskesmas Wua-Wua memainkan peran strategis dalam mendukung percepatan penurunan stunting di Kota Kendari. Melalui pendekatan langsung, tim gizi aktif melakukan kunjungan rumah kepada keluarga yang memiliki anak berisiko stunting. Di lapangan, mereka memberikan edukasi gizi, konseling, hingga pemantauan pertumbuhan secara rutin.

“Kalau ditemukan anak stunting, ibunya kami datangi langsung. Edukasi kami berikan di rumah, agar lebih tepat sasaran. Ini bagian dari kegiatan Gerakan Sadar Gizi Indonesia (GSI),” jelas Yustin.

"Bersama Cegah Stunting, Wua-Wua Hadirkan Harapan Baru bagi Generasi Muda"

Selain itu, Puskesmas juga gencar mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif dan pola pengasuhan yang tepat. Meski demikian, tantangan tetap ada. Banyak keluarga masih menerapkan pola asuh tradisional yang belum tentu sejalan dengan standar kesehatan modern.

“Pola menyusui atau pola ASU sangat menentukan. Kami sebagai petugas hanya bisa memberi arahan, keputusan akhirnya ada di tangan keluarga,” imbuhnya.

Untuk memperluas jangkauan intervensi, Puskesmas Wua-Wua bekerja sama dengan sejumlah instansi, seperti Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dinas Pengendalian Penduduk dan KB (Disdalduk dan KB) Kota Kendari, serta Dinas Kesehatan Kota Kendari.

Kolaborasi ini mencakup edukasi remaja, pendampingan calon pengantin, pencegahan pernikahan dini, hingga pelayanan gizi bagi ibu hamil dan balita.

Pendekatan komprehensif ini diharapkan mampu menekan angka stunting secara berkelanjutan dan menyeluruh. Bagi Yustin dan timnya, keberhasilan penurunan stunting hanya akan tercapai jika semua pihak turut berperan aktif.

"Bersama Cegah Stunting, Wua-Wua Hadirkan Harapan Baru bagi Generasi Muda"

“Keinginan kami jelas: tidak ada lagi anak yang stunting. Tapi itu hanya bisa terwujud kalau semua pihak bergerak bersama. Bukan hanya tugas tenaga kesehatan,” tegasnya.

Semangat ini menjadi cerminan nyata komitmen Kota Kendari dalam mendukung target nasional percepatan penurunan stunting. Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, lembaga pemerintahan, hingga dunia pendidikan, bukan hanya angka stunting yang ditargetkan turun, tetapi juga kesadaran kolektif tentang pentingnya gizi dan kesehatan sejak dini dapat tumbuh kuat di tengah masyarakat. (ADV)

Pos terkait