ANOATIMES. COM, BUTON – Di sebuah sudut selatan Pulau Buton, tersembunyi sebuah bukit yang menyajikan pemandangan tak biasa: padang savana luas yang seperti karpet hijau terbentang di atas ketinggian, kabut lembah yang menari-nari di pagi hari, dan siluet laut Banda yang samar terlihat dari balik rimbunan perbukitan. Bukit Langira, bagian dari kawasan Puncak Lamando atau dikenal juga sebagai Puncak Rongi di Desa Hendea, Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan, menjadi magnet baru bagi para pencinta alam dan pemburu keheningan.
Popularitas bukit ini memang belum sebesar nama-nama destinasi wisata mainstream lainnya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Langira perlahan muncul ke permukaan, diperbincangkan dalam komunitas pendaki, dan direkomendasikan dalam blog perjalanan. Keunikan bentang alamnya dan kesan alami yang masih sangat terjaga menjadi alasan utama. Pendakian ke bukit ini bukan hanya soal menaklukkan ketinggian, tetapi tentang proses menikmati lanskap dan keramahan masyarakat lokal yang menyatu secara harmonis dengan alam.
Perjalanan menuju Bukit Langira dimulai dari pusat Kecamatan Batauga, ibu kota Buton Selatan. Jalur kendaraan mengarah ke Desa Rongi, titik awal pendakian yang juga menjadi rumah bagi sebagian besar warga yang menjaga bukit ini. Jalur menuju puncak bisa ditempuh dalam waktu 30–45 menit dengan berjalan kaki menyusuri lereng perbukitan yang bertanah liat dan berumput. Di musim hujan, jalur ini bisa sangat licin, namun di musim kemarau, ia berubah menjadi jalur trekking yang menyenangkan, diapit oleh rerumputan tinggi dan pepohonan khas kawasan karst.
Rombongan komunitas petualang, yang datang dari Baubau dan Kendari, baru-baru ini menjadikan Bukit Langira sebagai lokasi eksplorasi dan kemah akhir pekan mereka. Datang dengan semangat memperkenalkan destinasi lokal, mereka juga berupaya merajut kolaborasi dengan masyarakat setempat melalui program edukasi lingkungan dan kemah bersama pelajar.
“Saat saya melangkah pertama kali ke Bukit Langira, napas langsung terhenti melihat hamparan savana dan kabut lembah di bawah,” ujar Rian, anggota Pwtualng yang ikut dalam pendakian. “Dari puncak ini, Laut Banda tampak memeluk kaki langit—luar biasa.”
Selain menikmati panorama alam, komunitas ini juga terlibat dalam kegiatan sosial dan edukatif. Mereka mengajak siswa dari SMP setempat untuk mendirikan tenda, mengenal jenis-jenis tumbuhan endemik, dan berdiskusi ringan tentang pelestarian alam. “Kami ingin anak-anak di sini tahu bahwa tempat mereka bukan tempat biasa,” tambah Rian. “Ini surga kecil yang harus dijaga, bukan hanya untuk wisata, tapi untuk masa depan mereka.”
Bagi masyarakat Desa Rongi, kehadiran pengunjung bukanlah gangguan, melainkan kebanggaan. Lia, warga muda yang menjadi pemandu lokal, mengaku senang bisa berbagi cerita tentang bukit yang sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil. “Saya tumbuh dengan mendengar cerita orang tua tentang Langira. Dulu kami ke sini hanya untuk panen rumput atau menggembala. Sekarang, banyak orang datang untuk berkemah, foto, atau sekadar menikmati angin lembah.”
Semangat gotong royong masih sangat terasa di kawasan ini. Warga desa kerap bergantian membersihkan jalur pendakian, menyediakan air minum bagi pendaki, dan bahkan membuka rumah sebagai tempat istirahat. Pak Amir, salah satu tokoh pemuda setempat, menyebutkan bahwa kehadiran komunitas seperti Pwtualng membawa dampak positif. “Kami tidak pernah minta bayaran, tapi kalau ada yang datang bantu ajarkan anak-anak, bersih-bersih bukit, kami merasa dihargai. Itu baru wisata yang sehat,” ujarnya.
Pengalaman petualangan juga berpadu dengan momen-momen emosional. Pada peringatan Hari Kemerdekaan tahun lalu, Bukit Langira menjadi lokasi pembentangan bendera Merah Putih sepanjang 77 meter oleh lebih dari seribu orang. Dewi, relawan dari komunitas Pwtualng yang ikut saat itu, mengenang peristiwa tersebut dengan mata berkaca. “Angin kencang membuat bendera melambai dramatis. Semua yang hadir meneteskan air mata—itu momen yang menguatkan kami.”
Meski fasilitas di sekitar bukit masih sangat terbatas—hanya terdapat satu gazebo kecil dan kamar mandi darurat di kaki bukit—hal itu justru memberi kesan alami yang langka. Para pengunjung harus membawa perlengkapan sendiri: tenda, logistik, air minum, bahkan kantong sampah. Namun, hal ini tidak menjadi hambatan. Justru membuat setiap kunjungan terasa lebih personal dan penuh tantangan.
Sore hari menjadi waktu favorit bagi banyak pengunjung. Langit berubah warna perlahan, dari biru pucat ke jingga keemasan, dan mentari tenggelam di balik bukit-bukit jauh. Angin lembah mulai bertiup lebih kencang, membawa kabut tipis yang menyelimuti savana. “Pemandangan saat sunset di sini tidak bisa dibandingkan dengan tempat lain,” kata Rian. “Kami seperti berdiri di atas awan, dengan karpet hijau dan langit berwarna oranye di bawah kaki.”
Warga lokal berharap pemerintah setempat dapat melihat potensi besar yang dimiliki Bukit Langira. Harapan itu bukan semata untuk pembangunan fisik, tetapi juga dalam bentuk perlindungan dan promosi yang tepat sasaran. “Kami ingin bukit ini tetap alami. Kalau dibangun, cukup jalur setapak yang aman dan tempat pembuangan sampah. Jangan dirusak dengan beton atau resort,” harap Lia.
Rencana pemerintah Buton Selatan sendiri sudah mengarah ke sana. Dalam beberapa agenda tahunan, Bukit Langira diusulkan masuk dalam kalender event wisata, bersanding dengan potensi wisata bahari lain seperti Teluk Lande dan Pulau Ular. Namun hingga saat ini, pengembangan masih dalam tahap wacana.
Petualangan ke Bukit Langira bukan sekadar pendakian biasa. Ia adalah perjalanan spiritual yang menyentuh banyak lapisan: kekaguman pada keindahan alam, kehangatan masyarakat lokal, dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. Bagi para pendaki, Bukit Langira bukan tujuan, melainkan awal dari kesadaran baru bahwa keindahan alam sejati terletak pada kesederhanaan dan rasa saling menjaga.
Ketika malam turun dan bintang-bintang muncul satu per satu di atas bukit, suara obrolan ringan dari tenda-tenda mulai mengisi ruang. Tak ada musik keras, tak ada lampu sorot. Hanya bunyi alam dan kebersamaan. Dan ketika pagi tiba, semua kembali menjejak bumi—pulang membawa cerita, dan sebuah janji untuk kembali suatu hari nanti. (ADV)






