Wakatobi Masuk Pilot Project UNESCO Asia Pasifik

  • Whatsapp
Wakatobi Masuk Pilot Project UNESCO Asia Pasifik

ANOATIMES.COM, WAKATOBI – Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Daerah yang dikenal sebagai surga bawah laut dunia itu resmi ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu lokasi pilot project pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (Education for Sustainable Development/ESD) di kawasan Asia Pasifik.

Penetapan tersebut semakin menegaskan posisi Wakatobi sebagai daerah konservasi maritim yang berkelanjutan dan menjadi contoh pembelajaran berbasis konservasi yang dapat menginspirasi dunia dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan global.

Bacaan Lainnya

Kabar membanggakan itu disampaikan langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Wakatobi, Nadar, melalui unggahan di akun media sosial Facebook miliknya pada Selasa (16/6/2026).

“Berkah yang patut menjadi kebanggaan bagi segenap masyarakat Wakatobi dan Sulawesi Tenggara. Banyak prestasi yang sudah terukir, tetapi yang ini menjadikan posisi Wakatobi lebih tegas lagi di pentas dunia,” tulis Nadar.

Menurutnya, pengakuan dari UNESCO tersebut menjadikan Wakatobi sebagai satu-satunya daerah di Indonesia yang dipercaya menjadi lokasi proyek percontohan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan.

Dari seluruh negara di kawasan Asia Pasifik, hanya empat negara yang terpilih dalam program tersebut, yakni Jepang, Vietnam, Thailand, dan Indonesia yang diwakili oleh Wakatobi.

Pencapaian tersebut diumumkan dalam forum internasional bertajuk “National Forum on Education for Sustainable Development: Biosphere Reserve and Ocean as The Learning Place of People and Planet” yang berlangsung di Hotel Shangri-La Jakarta pada Senin (15/6/2026).

Dalam forum bergengsi tersebut, Wakatobi menjadi salah satu pusat perhatian. Bupati Wakatobi, H. Haliana, SE, mendapat kehormatan menyampaikan sambutan pembuka (opening remarks) bersama Direktur Regional UNESCO Asia Pasifik, Mrs. Maki Katsuno Hayasikawa, serta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Abdul Mu’ti, M.Ed.

Tidak hanya itu, Haliana juga dipercaya menjadi salah satu pembicara utama (keynote speaker) dan menyerahkan langsung modul pendidikan berbasis konservasi yang dikembangkan Wakatobi kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI.

Nadar menegaskan bahwa pengakuan yang diterima Wakatobi bukanlah klaim sepihak daerah, melainkan validasi resmi dari UNESCO sebagai lembaga dunia di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Validasi untuk Wakatobi bukan oleh kita sendiri tetapi oleh UNESCO, lembaga dunia. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI menegaskan bahwa Wakatobi bukan satu-satunya nanti, tetapi Wakatobi adalah yang pertama dan menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan di Indonesia,” ungkapnya.

Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi momentum baru bagi kemajuan daerah, sekaligus membuka peluang lebih besar bagi pengembangan sektor pendidikan, konservasi, dan pariwisata berkelanjutan di Wakatobi.

“Semoga ini menjadi mata air baru yang dapat mengalirkan harapan dan kemajuan lebih pesat bagi Wakatobi di masa depan,” pungkas Nadar.

Pos terkait