ANOATIMES. COM, WAKATOBI – Menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Tenggara 2026 yang akan digelar di Kendari pada November mendatang, Pemerintah Kabupaten Wakatobi menyiapkan insentif khusus bagi atlet berprestasi.
Bupati Wakatobi sekaligus Ketua Umum KONI Wakatobi, H. Haliana, mengumumkan rencana pemberian “bonus plus” sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi bagi atlet yang berhasil meraih medali.
Pengumuman tersebut disampaikan Haliana saat membuka Rapat Kerja Kabupaten (Rakerkab) KONI Wakavtobi di Gedung Dharma Wanita, Wangi-Wangi, Minggu (20/4/2026).
Haliana menjelaskan, besaran bonus dasar akan lebih tinggi dibandingkan Porprov sebelumnya yang berkisar Rp25 juta. Namun, untuk nilai tambahan atau “plus”-nya masih dalam tahap kajian.
“Bonus sebagai gambaran tahun sebelumnya sebesar Rp25 juta, dan ‘plus’-nya belum bisa kita sampaikan karena masih dalam bahan kajian. Kami khawatir jika diumumkan sekarang akan terjadi tindis-menindis,” ujar Haliana.
Menurutnya, belum diumumkannya rincian bonus juga menjadi strategi untuk melindungi atlet Wakatobi dari upaya pihak lain yang mencoba menarik mereka agar membela daerah berbeda.
“Apalagi ada beberapa cabang olahraga yang kita lindungi betul-betul, jangan sampai diiming-imingi atau ditawari oleh pihak lain,” tambahnya.
Haliana juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memberikan penghargaan lebih besar dibanding Porprov sebelumnya yang digelar di Bau-Bau dan Buton.
Dalam kesempatan itu, ia turut menyoroti fenomena perpindahan atlet antar daerah yang kerap terjadi dalam setiap ajang olahraga, yang dikenal dengan istilah “caplok mencaplok” atau “pinjam meminjam”.
“Ini fenomena yang selalu ada. Semua daerah ingin meraih prestasi setinggi-tingginya, apalagi yang memiliki kemampuan finansial lebih baik,” jelasnya.
Meski demikian, Haliana memberi perhatian khusus terhadap atlet yang telah lama dibina di Wakatobi namun memilih membela daerah lain saat Porprov.
“Ini menjadi catatan penting, bagaimana sikap kita terhadap atlet yang lahir, tumbuh, dan dibina di Wakatobi, tetapi tiba-tiba mewakili daerah lain,” ungkapnya.
Selain itu, Haliana juga menyinggung keterbatasan anggaran serta waktu persiapan yang relatif singkat. Karena itu, KONI Wakatobi tengah mempertimbangkan skema pelaksanaan Training Center (TC) sebagai bagian dari persiapan atlet.
“Dengan keterbatasan anggaran dan waktu yang mepet, kita akan membuat skala prioritas. TC masih dalam kajian, apakah dilaksanakan di dalam daerah atau di luar daerah. Masing-masing cabang olahraga akan mengusulkan program TC ke depan,” tutupnya.






