ANOATIMES. COM, KONAWE – Desa Soropia, Kabupaten Konawe — Sejuk angin laut berembus pelan di antara jajaran pohon kelapa dan pinus yang berderet rapi di sepanjang bibir Pantai Tompaone. Di ujung timur Kabupaten Konawe yang bersinggungan langsung dengan perairan Teluk Kendari, pantai ini menjadi magnet bagi ratusan wisatawan yang mencari ketenangan, permainan air yang aman, dan suasana alami yang jarang ditemui di pantai-pantai perkotaan.
Pantai Tompaone — yang juga dikenal secara administratif sebagai Pantai Toronipa — kini menjadi salah satu destinasi favorit keluarga dari Kota Kendari dan sekitarnya. Dengan jarak tempuh hanya sekitar 30–45 menit dari pusat kota, kawasan ini menjadi ruang pelarian yang ideal dari kepadatan aktivitas urban, menawarkan hamparan pasir putih selembut bedak dan air laut yang tenang dengan gradasi biru-kehijauan.
“Kalau ke sini rasanya seperti pulang. Udara bersih, anak-anak bisa bebas berenang tanpa khawatir ombak besar, dan suasananya selalu bikin tenang,” ujar Dita (32), seorang ibu muda asal Kecamatan Baruga, Kendari, yang sudah tiga kali berturut-turut membawa keluarganya berakhir pekan di Pantai Tompaone. Bersama suaminya dan dua anak, ia menyewa gazebo di tepi pantai seharga Rp100.000 untuk menikmati santap siang sambil memandangi anak-anak bermain pasir dan ban pelampung.
Bagi warga lokal Desa Soropia, geliat wisata yang tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir menjadi berkah yang membangkitkan harapan baru. “Dulu banyak pemuda yang merantau ke kota karena tidak ada pekerjaan. Sekarang banyak yang kembali, buka warung, sewa ban, gazebo, atau bantu-bantu kelola tempat wisata,” kata La Ode Riswan, salah satu pengelola jasa sewa wahana banana boat di Tompaone.
Menurut Riswan, pendapatan dari wisata cukup menjanjikan. Dalam akhir pekan, ia bisa menyewakan banana boat dan donut boat lebih dari 20 kali kepada rombongan wisatawan, terutama anak muda atau keluarga besar. Tarifnya berkisar antara Rp25.000–Rp40.000 per orang, tergantung durasi dan jumlah penumpang. Selain itu, ia juga menjual kelapa muda, air mineral, dan camilan lokal seperti bagea dan kacang mete.
Daya tarik utama Pantai Tompaone tak hanya pada garis pantainya yang panjang — sekitar 4 km — tetapi juga pada kondisi perairannya yang sangat landai. Wisatawan bisa berjalan hingga puluhan meter ke arah laut tanpa harus berenang. Inilah yang membuatnya ideal sebagai tempat bermain anak-anak, terapi air untuk lansia, atau lokasi berlatih paddle board dan kayak bagi pemula.
Kondisi ini juga dimanfaatkan oleh sejumlah komunitas olahraga air yang mulai menjajal kawasan ini sebagai lokasi latihan. Salah satunya adalah komunitas paddle board asal Kendari yang rutin datang setiap dua pekan sekali. “Airnya tenang, nggak ada ombak besar, dan dangkal — cocok banget untuk latihan dasar paddle. Kami kadang ajak anak-anak juga untuk belajar,” ujar Ridwan, anggota komunitas yang sekaligus pelatih olahraga air.
Masyarakat sekitar menyebut nama “Tompaone” berasal dari istilah lokal yang bermakna “tanah yang menjorok ke laut.” Secara geografis, kawasan ini memang menjadi bagian dari teluk yang menjorok dan terlindung dari angin besar, menjadikan gelombang laut relatif stabil hampir sepanjang tahun.
Pemerintah Kabupaten Konawe melalui Dinas Pariwisata telah menetapkan kawasan Tompaone sebagai bagian dari Destinasi Strategis Daerah. Rencana jangka panjang yang sedang disusun meliputi pembangunan resort, café pantai, jalur pedestrian, bahkan zona khusus camping ground yang ramah anak dan keluarga.
Namun di balik geliat ekonomi, masyarakat dan pegiat wisata juga mulai menyuarakan perhatian atas potensi ancaman terhadap lingkungan pesisir. Beberapa kelompok masyarakat menyampaikan kekhawatiran terhadap rencana pembangunan pelabuhan khusus tambang nikel di sekitar wilayah Soropia, yang dikhawatirkan dapat mengganggu ekosistem laut, terutama biota di sekitar kawasan terumbu karang dan hutan mangrove.
“Kami tidak anti pembangunan. Tapi tolong, jangan rusak alam yang sudah memberi makan kami ini,” ujar Ahmad, tokoh adat Soropia yang juga menjadi pengurus komunitas pelestarian laut setempat. Ia menyebut, sejak 2019 warga sudah mulai aktif mengelola kawasan pantai agar tetap bersih, menjaga sampah plastik, dan menolak segala bentuk eksploitasi laut yang merusak.
Menurut catatan Dinas Pariwisata Konawe, pada musim libur panjang seperti Lebaran, Imlek, atau Tahun Baru, Pantai Tompaone bisa dikunjungi lebih dari 2.000 orang per hari. Jumlah itu menurun pada hari kerja biasa, namun tetap stabil di angka 300–500 pengunjung.
“Pantai ini memang punya keunggulan: dekat dari kota, tapi masih asri. Itu yang jadi daya tarik utama,” ujar Irwan, staf Dinas Pariwisata Konawe. Ia menyebut, pembangunan infrastruktur dasar seperti toilet umum, tempat bilas, dan mushola sudah berjalan bertahap. Target berikutnya adalah penataan parkir dan jalur aman untuk difabel.
Sementara itu, kelompok pemuda desa juga aktif menyelenggarakan lomba-lomba seperti tarik tambang, voli pantai, dan permainan rakyat setiap kali musim liburan tiba. Acara ini sering menjadi momen promosi tersendiri, karena menghadirkan suasana lokal yang meriah namun tetap bersahabat bagi wisatawan.
Di sela-sela ombak kecil yang memecah pelan di kaki anak-anak, di bawah rindangnya pohon kelapa dan nyanyian burung laut, Pantai Tompaone terus menyusun cerita — tentang sebuah desa pesisir yang merangkul masa depan tanpa meninggalkan akarnya. Wisata yang bertumbuh, ekonomi yang hidup, dan alam yang dijaga, menjadi tiga tiang harapan yang kini mulai tegak di sepanjang pantai berpasir putih itu.
6.)
Petualangan Menyusuri Pantai Meleura, Menyentuh Keteduhan Karst dan Birunya Laut di Ujung Muna
MUNA, ANOTIMES.COM — Waktu baru menunjukkan pukul 07.15 WITA ketika rombongan kecil berisi empat orang dari Kendari akhirnya menjejakkan kaki di Desa Lakarinta, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna. Tujuan mereka satu: menyambut pagi dengan menjelajahi keajaiban alam Pantai Meleura, sebuah pantai yang terselip rapi dalam pelukan batu karst dan air jernih seperti kristal yang mengalun lembut di sisi tenggara Pulau Muna.
Perjalanan laut dari Pelabuhan Kendari ke Raha yang memakan waktu dua jam lebih terasa ringan bagi Arif, Nadya, Rio, dan Deka — empat sahabat yang sudah lama mengincar Meleura sebagai lokasi petualangan alam ringan. Mereka menyewa satu mobil dari Raha, dan menempuh perjalanan sekitar 30 menit ke arah Lohia. Di sepanjang jalan, mereka disambut pemandangan perbukitan kapur dan gugusan rumah warga yang sederhana namun hangat.
“Begitu masuk ke kawasan pantai, langsung terasa auranya beda,” ujar Rio sambil menurunkan ransel dari bahunya. “Pantainya tersembunyi, tapi begitu kelihatan lautnya… wow. Seperti bukan di Sultra. Mirip Raja Ampat versi mungil.”
Pantai Meleura menyajikan lanskap yang tidak biasa untuk ukuran pantai di Sulawesi Tenggara. Bukan hanya pasir putih dan air laut yang jernih, tapi juga batuan karst yang menjulang dan tersebar membentuk gugusan kecil — menciptakan semacam labirin alami yang seolah-olah mengajak wisatawan menyelami misteri geologi di tengah laut tenang.
Pagi itu, matahari belum terlalu terik. Cahaya keemasan jatuh miring ke permukaan air, menciptakan siluet batuan karst yang berkilau. Mereka memulai petualangan dengan mendaki undakan tanah menuju gardu pandang yang dibangun oleh pengelola desa wisata. Dari ketinggian ini, hamparan laut terbuka membentang tak terbatas. Terlihat perahu nelayan melintas pelan di kejauhan, seperti titik-titik putih yang bergerak tanpa suara.
“Tempat ini punya energi yang damai sekali,” kata Nadya pelan, sambil mengambil foto dengan kameranya. Ia mengaku sengaja tidak membuka ponsel sejak turun dari kapal, karena ingin sepenuhnya hadir dalam suasana alam.
Setelah puas menikmati panorama dari atas, mereka turun dan menyusuri garis pantai yang membentuk semacam teluk mungil. Batuan besar seperti sengaja diletakkan di bibir pantai — beberapa bisa didaki, lainnya menjadi tempat duduk alami untuk bersantai. Di celah-celah batu, air laut memantulkan warna kehijauan yang tenang. Rio dan Deka memutuskan untuk mencoba berenang dan snorkeling ringan di sisi yang lebih dalam, sementara Arif dan Nadya memilih menyewa perahu lokal dari warga.
Pak La Ode Aca, seorang nelayan paruh baya yang sudah tinggal di sekitar Pantai Meleura sejak kecil, menawarkan perahu kecil miliknya. Ia mengenakan topi lebar dan kain sarung yang dililit rapi di pinggang. “Kalau mau keliling batu-batu di seberang sana, bagus sekali airnya. Bisa lihat ikan kecil dan karang. Dulu kami mancing di sana,” katanya sambil tersenyum ramah.
Dengan tarif Rp10.000 per orang, Aca membawa mereka menyusuri celah-celah sempit antara batu karst. Dari atas perahu, keindahan bawah laut mulai tampak jelas. Gerombolan ikan kecil berenang bebas di sela karang dangkal. Beberapa pohon kecil tumbuh di atas batu seperti bonsai alami. Airnya begitu jernih hingga bisa melihat dasar laut dengan mata telanjang.
“Saya kira tempat seperti ini hanya ada di foto-foto digital, ternyata nyata dan bisa disentuh,” ujar Arif kagum.
Mereka juga menyempatkan singgah di satu batu besar yang memiliki celah seperti gua mini. Di situ, suara ombak yang mengalun lembut berpadu dengan desiran angin. Tempat itu, menurut Aca, sering dijadikan titik meditasi oleh beberapa pengunjung. “Kadang ada juga tamu dari luar negeri yang duduk diam di situ sampai sore,” ujarnya.
Usai menyusuri pantai dari atas air, mereka kembali dan istirahat di salah satu gazebo yang disediakan warga. Sambil menikmati kelapa muda dan ikan bakar sederhana dari warung lokal, mereka berbincang dengan Ibu Wiwin, pengelola warung sekaligus pelaku wisata lokal yang sudah delapan tahun membuka usaha di kawasan Meleura.
“Dulu tidak terlalu ramai, tapi setelah dibuka sebagai desa wisata dan ikut festival, pengunjung banyak datang. Alhamdulillah kami bisa tambah pendapatan,” ujarnya.
Menurut Wiwin, musim ramai biasanya datang saat akhir pekan, hari libur nasional, atau musim liburan sekolah. Saat itu, keluarga, komunitas motor, dan pecinta alam dari berbagai daerah tumpah ruah. Beberapa bahkan membawa tenda dan camping di bukit kecil yang menghadap laut.
“Kami jaga sama-sama. Kebersihan nomor satu. Kalau lihat sampah, semua warga ikut bersihkan,” tambahnya.
Petualangan hari itu diakhiri dengan berjalan menyusuri batuan karst hingga ke sisi timur pantai, di mana matahari mulai condong ke arah barat. Sinar senja memperkuat warna oranye di langit, menciptakan siluet yang dramatis — batu, laut, dan tubuh mereka yang berdiri kecil di antara lanskap luas.
“Ini bukan cuma perjalanan alam, tapi pengalaman batin juga,” ujar Nadya lirih, sebelum mengemasi barang dan kembali ke Raha.
Di tengah kesibukan dan tekanan hidup kota, Pantai Meleura memberi ruang untuk bernafas, menyatu, dan mengingat kembali betapa indahnya bumi yang masih terjaga. Dengan pendekatan wisata berbasis komunitas dan kesadaran akan kelestarian alam, pantai ini bukan hanya tempat berlibur — tetapi ruang perjumpaan antara manusia dan alam dalam wujudnya yang paling jujur. (ADV)






